<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141</id><updated>2011-04-22T09:00:54.794+07:00</updated><title type='text'>KLIPING JENDELA IDE</title><subtitle type='html'>Berita-berita tentang Jendela Ide</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-492199397690270068</id><published>2007-02-11T15:50:00.000+07:00</published><updated>2007-03-01T16:23:19.580+07:00</updated><title type='text'>Wayang Suket, tidak Tunduk pada Pakem</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;JIKA ada pertunjukan wayang yang demikian             imajinatif dalam memainkan tokoh-tokohnya, itu adalah pertunjukan wayang suket (rumput)             garapan Ki Dalang Slamet Gundono. Apa pasal, sehingga pertunjukan yang digarapnya itu             demikian imajinatif? Sebab anak wayang yang dimainkannya itu dibuat dari puluhan batang             rumput, yang dirangkai dan dianyam sedemikian rupa. Jenis rumput yang dirangkai dan             dianyam sehingga menjadi anak wayang itu adalah jenis rumput alang-alang, rumput gajah,             rumput teki, dan mendong yang sering dijadikan tikar mendong. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;table bordercolorlight="#C0C0C0" bordercolordark="#FFFFFF" style="float: right; margin-left: 5px; margin-bottom: 5px;" border="1" bordercolor="#ffffff" cellpadding="2" cellspacing="0" width="260"&gt;               &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;                 &lt;td align="center"&gt;&lt;img src="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/11/01-Wayang%20Sukek.gif" height="173" width="250" /&gt;&lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td align="center" bgcolor="#d6d6d6"&gt;&lt;small&gt;&lt;i&gt;Dalang Wayang Sukek, Ki Dalang Slamet                 Gundono berdialog dengan wayang raksasa kolaborasi dengan Jendela Ide dalam pertunjukan di                 Sabuga Bandung, Sabtu (10/2).* &lt;/i&gt;&lt;small&gt;&lt;small&gt;M. GELORA SAPTA/"PR"&lt;/small&gt;&lt;/small&gt;&lt;/small&gt;&lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;             &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;             &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Rupa anak wayang yang dibuatnya itu, tentu saja tidak seperti wayang kulit meskipun             sama pipihnya. Dalam wayang kulit, kita masih bisa menemukan corak pakaian, dan rupa para             tokohnya yang diberi warna dan hiasan sedemikian rupa. Sedangkan dalam wayang suket, hal             itu tidak kita temukan. Namun demikian, dari "batang-batang" rumput yang diolah,             dirangkai, dan dianyam secara khusus itu, hasilnya ada yang mencitrakan burung, orang, dan             bahkan senjata tertentu dengan bentuk yang pipih. Di tanah Sunda, bentuk wayang semacam             itu ada kalanya dibuat dari "tangkai" daun ketela pohon.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pertunjukan wayang suket yang dikreasi Ki Dalang Slamet Gundono menarik perhatian,             karena sang dalang ketika memainkan anak wayang yang tengah dipegangnya itu, ada kalanya             tidak dimainkan sebagaimana memainkan wayang golek atau wayang kulit. Wayang suket kadang             hanya dipegang, atau ditekankan ke dada sang dalang. Pada saat demikian maka yang menari             bukan wayang, melainkan sang dalang itu sendiri. Fungsi dalang dalam pertunjukan tersebut,             tidak hanya berperan sebagai orang yang memainkan anak wayang, tetapi juga sebagai penari             dan penembang sekaligus. Selain itu, &lt;i&gt;waditra&lt;/i&gt; (alat musik tradisional) yang ditabuh             pun bukan &lt;i&gt;waditra&lt;/i&gt; yang lengkap sebagaimana dalam pertunjukan wayang golek maupun             wayang kulit. Di dalam pertunjukan wayang suket, ada kalanya Slamet Gundono memanfaatkan             alat musik ukulele yang dipetik saat menembang, atau saat menekan suasana pada             adegan-adegan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Berkait dengan daya kreativitas semacam itu, teaterawan Rendra pernah mengatakan bahwa             apa yang dikreasi Ki Dalang Slamet Gundono termasuk dalam jenis wayang kontemporer dengan             basis tradisi sebagai titik pijaknya, yakni tradisi wayang kulit, meski tidak sepenuhnya             memainkan tradisi tersebut. Apa sebab? Karena ada banyak pakem pertunjukan tradisional             yang dilanggarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;DALAM pertunjukan kali ini yang digelar di salah satu gedung di lingkungan Gedung             Sabuga, Jln. Tamansari Bandung, pada Sabtu malam (10/2), Ki Dalang Slamet Gundono tidak             memainkan lakon carangan maupun lakon pokok dari cerita wayang sebagaimana yang pernah             dipertunjukkan di berbagai tempat. Ia memainkan lakon tanpa alur dan bahkan tanpa konflik.             Ini terjadi, karena anak wayang yang dipegangnya itu berinteraksi dengan anak-anak yang             tengah digali potensinya untuk ikut berproses kreatif main wayang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Ada kalanya ketika Ki Dalang Slamet Gundono yang berat tubuhnya mencapai 350 kg itu             sedang menembang dan menari, anak-anak dibuat tertawa. Apa sebab? Karena gerak tubuh Ki             Dalang Slamet itu sendiri jadi tontonan yang menarik pula. Lantas, apakah ketika menari,             tubuh Ki Slamet tampak kaku? Justru tidak. Ia malah tampak lentur. Ki Slamet selain mahir             memainkan wayang, baik wayang suket maupun wayang kulit, memang dikenal sebagai penari,             pemain teater, dan juga penembang dengan warna vokal yang khas, yang menarik untuk             diapresiasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Interaksi anak-anak dengan Ki Dalang Slamet dalam pertunjukan sarat dengan gelak-tawa             karena pertunjukan yang digelarnya itu bukan pertunjukan yang sudah diskenario sebelumnya.             Dengan demikian, dialog antara dalang dengan si anak atau antara si anak dengan si anak             yang berlangsung secara spontan itu, sering melahirkan ungkapan-ungkapan yang lucu ketika             apa yang diucapkan oleh si anak kemudian diplesetkan oleh sang dalang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pertunjukan wayang suket dengan demikian, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ki Dalang             Slamet Gundono dalam berbagai kesempatan di Bandung, adalah pertunjukan wayang terbuka,             yang tidak tunduk pada pakem. Misalnya, ia tidak harus main di atas panggung. Ia bisa main             di lapangan tanpa panggung, bisa sambil duduk atau berdiri. "Yang penting dalang bisa             menari dan menembang!" jelas Ki Slamet. Pertunjukan wayang suket itu sendiri baru             digelar untuk pertamakalinya oleh Ki Slamet Gundono tahun 1999.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;PERTUNJUKAN wayang suket yang digelar oleh Jendela Ide Cultural Institution for             Children &amp;amp; Youth, sebagaimana dikatakan oleh Direktur Jendela Ide, Drs. Andar Manik,             memang dipertunjukkan bagi anak-anak dengan tujuan menggali potensi anak dalam berproses             kreatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Sesungguhnya sejak sore, Ki Slamet Gendono sudah melakukan &lt;i&gt;workshop&lt;/i&gt;             bersama anak-anak membuat wayang suket. Sambil bekerja, ia banyak cerita tentang fungsi             rumput bagi manusia. Berkait dengan itu masalah lingkungan hidup secara tidak langsung             diceritakan Ki Slamet pada anak-anak," jelasnya. (Soni Farid             Maulana/"PR")***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/11/0105.htm"&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/11/0105.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-492199397690270068?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/492199397690270068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/492199397690270068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2007/03/wayang-suket-tidak-tunduk-pada-pakem.html' title='Wayang Suket, tidak Tunduk pada Pakem'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-6671834773781611680</id><published>2006-03-01T16:11:00.000+07:00</published><updated>2007-03-01T16:20:13.035+07:00</updated><title type='text'>dari RoadShow Kampanye Pendidikan untuk Anak - Sanggar Anak Akar</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:78%;" &gt;Andy Sutioso | Januari 2006&lt;/span&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Cukup mendadak saya dikontak teman saya kang                Andar Manik (dari &lt;a href="http://jendelaide.blogspot.com/"&gt;Jendela                Ide&lt;/a&gt;), mengajak Semi Palar untuk ikut hadir dalam satu kegiatan                yang iinisiasi oleh &lt;a href="http://akar.kerjabudaya.org/"&gt;Sanggar                Anak Akar&lt;/a&gt;, sebagai bagian dari Road Show pertunjukkan mereka                ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Saya                sebetulnya agak ragu karena sebagai sebuah lembaga pendidikan, Semi                Palar masih sangat baru dan muda, dan belum banyak hal yang dilakukan,                dibandingkan dengan lembaga lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Tapi saya pikir, mudah-mudahan Semi Palar bisa hadir dengan menyumbangkan                suatu spirit baru bahwa tindakan-tindakan kita untuk pendidikan,                untuk anak-anak kita masih jauh dari cukup, dan sekecil apapun kita                perlu mencoba melakukan sesuatu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Tentang Sanggar Akar sendiri saya sudah dengar                cukup lama, dan sudah cukup lama saya ingin mencari tahu lebih banyak                tentang komunitas ini dan aktifitas-aktifitasnya. Dari kang Andar,                saya mendengar juga bahwa ada beberapa teman dari beberapa komunitas                yang akan terlibat. Mendengar lebih jauh tentang event ini minat                saya segera tumbuh, dan kemudian kami berusaha melakukan persiapan                untuk event ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Setelah menset-up materi pameran, keesokan                harinya ada kegiatan workshop 2 hari. Di lokasi workshop, saya sangat                beruntung bisa berkenalan dengan beberapa teman baru, dengan kiprahnya                masing-masing di berbagai 'arena' di bidang pendidikan. Terlepas                dari materi dan kegiatan workshop, saya berkesempatan untuk ngobrol                dengan beberapa teman. Dan bincang-bincang singkat ini sangat membuka                wawasan saya tentang banyak hal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Kesan pertama yang saya dapat adalah betapa                problem pendidikan kita begitu parahnya, di semua lini. Sederhana                melihatnya karena begitu banyak inisiatif teman-teman dari berbagai                komunitas di berbagai lokasi untuk melakukan sesuatu untuk pendidikan                anak-anak. Sebuah kelompok bergerak di Garut untuk membantu anak-anak                buruh tani yang tidak punya kesempatan sekolah. Inisiatif yang dilakukan                Boy, Ince dan teman-temannya melalui MT Sururon saya lihat begitu                luar biasa, sampai akhirnya saya berpikir 'beruntunglah' di sekitar                situ tidak ada sekolah sehingga akhirnya anak-anak tersebut justru                dapat sentuhan luar biasa yang bisa sangat memperkaya mereka karena                kepedulian teman-teman tadi. Bukan sekedar pendidikan formal yang                belum tentu jelas juntrungnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Sebagian kecil dari anak-anak jalanan di                Jakarta saya lihat juga justru 'sangat beruntung' karena dapat sentuhan                dari teman-teman di Sanggar Anak Akar. Mereka justru bisa menemukan                diri mereka sendiri tanpa harus duduk di bangku sekolah formal.                Apa yang dilakukan oleh relawan Sanggar Anak Akar, mas Ibe Karyanto                dan teman-teman justru lebih menyelamatkan mereka dan membawa makna                yang lebih nyata daripada sekedar selembar ijazah SD saat mereka                bisa duduk di bangku sekolah formal. Dalam diskusi kelompok saya                menyampaikan komentar bahwa situasi mereka di Sanggar Anak Akar                justru memposisikan mereka 'jauh lebih baik' daripada katakanlah                mereka punya uang untuk bisa duduk di bangku sekolah formal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Dalam diskusi tersebut, saya ada dalam satu                kelompok dengan seseorang anak muda dari Sanggar Akar, (&lt;i&gt;kawan,                saya minta maaf nama anda lepas dari memori saya, nanti kita jumpa                lagi saya pasti ingat anda&lt;/i&gt;). Saya tidak akan pernah lupa kesan                yang saya dapat dari dia dalam pertemuan itu. Di diskusi itu saya                terus berusaha mencatat bahwa dia adalah seorang anak yang hidup                dan besar di jalanan di Jakarta. Pertanyaannya, bagaimana bisa dia                tampil seperti itu. Percaya diri, penuh wawasan, kritis, berani                berpendapat, cerdas - terlepas dari tampilannya yang khas anak muda                di jalanan: rambut gondrong, kaos dan celana hitam, sepatu boot                dan asesoris ala 'metal'. Kualitas yang justru tidak saya temui                di para mahasiswa saat saya mengajar di sebuah ruang kuliah kampus                universitas katolik yang (katanya) paling hebat di Bandung. Saya                tidak akan pernah lupa perjumpaan ini dan akan selalu jadi catatan                kecil yang penting bagi saya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Kelompok lain, mas Trisno yang hadir mewakili                SOS Kinderdorff, adalah kelompok yang menangani anak-anak yatim                piatu. Mas Achok, dari kelompok yang menamakan diri Semak (Solidaritas                Masyarakat Anak) membantu mendampingi anak-anak jalanan di Bandung,                memberikan kesempatan dan pendampingan bagi anak-anak ini untuk                bisa berkegiatan secara kreatif lewat berbagai media kesenian. Satu                sisi yang saya yakin sangat mereka butuhkan untuk bisa ikut mengatasi                kerasnya hidup sehari-hari yang mereka jalani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Jendela Ide, yang kegiatannya dikoordinasi                Marintan dan Andar Manik mencoba mengatasi ketidak-seimbangan materi                dan pola belajar dan lebih jauh lagi, membuka pintu untuk anak dan                remaja bisa bersentuhan dengan wilayah kebudayaan melalui cara dan                suasana yang mudah diterima mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Inisiatif-inisiatif ini, yang istilahkan                oleh mas Eddie dari FPPM (Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat)                sebagai partisipasi masyarakat, memberikan gambaran tentang kompleksnya                permasalahan pendidikan di Indonesia. Munculnya kelompok-kelompok                dengan inisiatifnya masing-masing tentunya timbul saat sebuah kondisi                bermasalah berkembang sampai tingkat tertentu dan inisiatif masyarakat                ini muncul sebagai reaksi balik terhadap permasalahan tersebut.                &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Dari berbagai lapisan dan kondisi masyarakat,                ternyata inisiatif masyarakat melalui orang-orang yang peduli bermunculan.                Mulai dari daerah terpencil di pedesaan di Garut, anak-anak jalanan                di kota besar, anak-anak Yatim Piatu, sampai ke kalangan anak-anak                yang sebetulnya punya kesempatan untuk duduk di bangku sekolah dan                mengecap pendidikan. Masing-masing hadir dengan permasalahannya                sendiri-sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Solusi yang komprehensif untuk permasalahan                ini saya kira sangat sulit dicapai dengan kondisi kita sekarang                ini, termasuk oleh ketidak-mampuan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah                ini. Dalam banyak hal, jelas bahwa inisiatif masyarakat jauh lebih                jitu untuk permasalahan-permasalahan yang dihadapi dan dipahami                secara langsung oleh masyarakat, khususnya oleh mereka yang punya                kepedulian. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Di titik ini, yang kita perlukan adalah usaha                untuk memetakan kelompok-kelompok yang ada. Dari event di Taman                Budaya ini, saya yakin hanya sedikit yang tampil dan kebetulan bisa                bertemu. Tentunya akan sangat bermanfaat kalau masing-masing kelompok                dengan wilayah gerak dan orientasi bisa saling mengenal dan berinteraksi,                bahkan saling belajar satu sama dari yang lain. Dengan cara ini,                tentunya peluang untuk bekerja sama dan bersinergi bisa sangat terbuka.                &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Dari sisi pemerintah dan birokrasi, akan                sangat bijaksana kalau bisa merangkul dan memberi kepercayaan bahkan                memfasilitasi kelompok-kelompok ini untuk lebih mudah bergerak.                Yang dibutuhkan adalah bukan regulasi dan pengaturan-pengaturan                yang kaku dan tidak jelas juntrungannya. Kalaupun belum bisa berbentuk                apresiasi, kepercayaan akan sangat membantu kelompok-kelompok ini                untuk bergerak membantu masyarakat, dan sebetulnya membantu pemerintah                melaksanakan tugasnya melayani masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Untuk saya pribadi, saya sungguh merasa beruntung                bisa hadir di kegiatan ini. Sangat membuka mata dan wawasan, selain                untuk mengingatkan dan merefleksi bahwa apa yang dilakukan teman-teman                di wilayah yang sama, di wilayah pendidikan adalah sangat luar biasa...                Semoga saya juga teman-teman di Smipa punya kesempatan untuk belajar                dari mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Di hari pertunjukkan Nyanyian Para Boneka                yang ditampilkan Sanggar Anak Akar, saya hadir bersama anak saya                Inka (9 tahun). Sebuah pertunjukkan luar biasa dari awal hingga                akhir... alur cerita, tata musik, koreografi, tata panggung, kostum,                semuanya. Saat menyaksikannya lagi saya harus berusaha terus mengingatkan                diri bahwa pagelaran ini adalah karya anak-anak yang sehari-hari                hidup dan besar di jalanan, dengan segala tantangan dan problematika                yang mereka hadapi. Di panggung teater tertutup Taman Budaya mereka                tampil, sekali lagi, luar biasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Saya sangat tersentuh menyaksikannya, mencatat                dalam batin bahwa kepedulian yang sejati bisa punya kekuatan luar                biasa. Memfasilitasi siapapun dalam kondisi apapun melalui apa yang                kita istilahkan sebagai pendidikan - dengan cara yang tepat - punya                kekuatan untuk mentransformasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Bagi anak-anak Sanggar Akar sebagian besar                dari mereka akan tetap hidup di jalanan. Dan memang mungkin sebagian                dari mereka memilih untuk hidup di jalanan. Tapi memilih atas kesadaran                penuh atas situasional dirinya, termasuk atas potensi dan kekuatan                yang dimilikinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Melalui tampilnya mereka di atas panggung,                mereka punya harga diri, melalui apa yang dikerjakannya mereka punya                percaya diri. Saat mereka berdiri di panggung menerima applause                dari penonton, mudah-mudahan mereka mendapatkan siraman keyakinan                atas eksistensi diri mereka, yang menumbuhkan mereka sebagai seorang                individu, seorang manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Mudah-mudahan anak saya juga bisa merefleksi                dan kesempatan ini jadi sesuatu yang juga menyentuh dia. Buat kita,                buat anak-anak kita, seharusnya kita harus berbuat lebih baik dan                bisa jadi lebih baik dari mereka... &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Seperti apa yang disemboyankan teman-teman                di sanggar anak akar &lt;/span&gt;: &lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;untuk anak-anak,                pemilik masa depan, pendidikan tidak bisa ditunda. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;                          &lt;p&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan kaki : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-size:85%;" &gt;               tulisan ini dirangkai sebagai catatan pengalaman dari kegiatan di                Taman Budaya Jawa Barat yang merupakan bagian dari Road Show Kampanye                Pendidikan untuk Anak (Solo, Malang, Yogyakarta, Bandung) yang diselenggarakan                &lt;a href="http://akar.kerjabudaya.org/"&gt;Sanggar Anak Akar&lt;/a&gt;. Kepanitiaan                kegiatan di Bandung - Jawa Barat ditangani oleh &lt;a href="http://jendelaide.blogspot.com/"&gt;Jendela                Ide&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.semipalar.net/tulisan/tulisan11.html"&gt;http://www.semipalar.net/tulisan/tulisan11.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-6671834773781611680?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/6671834773781611680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/6671834773781611680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2007/03/dari-roadshow-kampanye-pendidikan-untuk.html' title='dari RoadShow Kampanye Pendidikan untuk Anak - Sanggar Anak Akar'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-4601465733181925553</id><published>2006-01-01T15:20:00.000+07:00</published><updated>2007-03-01T16:26:59.544+07:00</updated><title type='text'>A Tribute to Madam Chiang</title><content type='html'>A Tribute to Madam Chiang merupakan judul yang disepakati sebagai sebuah penghargaan pada Madam Chiang Yu Tie, saat ini hampir mencapai usia 90 tahun, seorang guru yang tak lelah membagi kemampuan unik dalam menulis kaligrafi, melukis &amp; membuat puisi.&lt;br /&gt;&lt;div class="isi"&gt;&lt;br /&gt;Dalam pameran ini tampil karya seorang Master dan Guru Chinese Painting di Indoneseia karya Ibu Teng Moe Yin, putri Madam Chiang, seorang pelukit yang lebih senang menyebut dirinya pengajar, serta karya studi dua orang murid Ibu Teng Moe Yin: Bintang Manira Manik yang telah menekuni Chinese Painting selama dua tahun dan ibu Retno Hardjoko yang baru satu tahun bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Chiang Yu Tie&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lahir sekitar tahun 1917 di kabupaten Fuyang propinsi Zhejiang, Tiongkok. Berkarya sejak usia sekolah dan mulai berpameran tahun 1942. Tahun 1945 lulus Akademi Seni Lukis Negeri Xinxi, Chongqing. Pada masa awal melukis figur perempuan dengan inspirasi dari novel klasik 'Impian di Rumah Merah' atau 'Hou Lou Meng', selanjutnya pemandangan dengan flora&amp;amp; fauna menjadi fokus karya-karyanya. Salah satu ciri yang menandai karya-karya Madame Chiang adalah pembubuhan puisi atau epigram pada sisi kiri atau kanan yang sesuai dengan lukisannya. Tahun 1948 bersama suaminya merantau dan menetap di Bandung. Selain berkarya, kemudian memilih bergerak dalam pendidikan informal. Berbagai penghargaan lokal maupun internasional diterimanya, diantaranya tahun 1995 Golden Award untuk lomba seni Lukis dan kaligrafi sejagad 'Jun-Long Cup'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Teng Moe Yin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Bandung 1952. Berguru kepada ibunya dan kemudian belajar melukis pada bapak Barli Sasmitawinata. Memperdalam bakat seni di Art Department of Che Chiang, Cina dan melakukan penelitian seni lukis dinding Dun Huang di Tiongkok. Anggota Persatuan Pelukis Cat Air Indonesia serta mengikuti berbagai pameran di dalam maupun di luar negeri. Puluhan tahun menjadi guru Chinese Painting, salah satu diantaranya di Jendela Ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Retno Hadjoko&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lahir 62 tahun yang lalu &amp; berprofesi sebagai dokter. Belajar melukis cat minyak pada bapak Barli Sasmitawinata. Sejak 2004 belajar Chinese Painting di Jendela Ide dengan objek favoritnya pemandangan dan bunga. Pameran pertama tahun 2005 dalam event Jendela Oriental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bintang Manira Manik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berusia 13 tahun. Sejak kecil mencintai dunia seni rupa, teater dan musik, berawal dari rumah dan kemudian disalurkan di Jendela Ide. Mendapat penghargaan dalam beberapa kompetisi seni lukis sejak usia Taman Kanak-kanak. Berpartisipasi dalam pertunjukan &amp;amp; Pameran sejak 1998. Belajar Chinese Painting sejak tahun 2002 di Jendela Ide pada ibu Teng Moe Yin dengan binatang seabgai objek yang paling disukai. Mengikuti pameran Chinese Painting 'Jendela Ide Oriental' tahun 2005. Di samping Chinese Painting, Bintang bermain perkusi dengan jendela Ide Kids Percussion. Saat ini duduk di kelas I SMP Providentia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Acara ini terselenggara berkat kerjasama Common Room dan Jendela Ide&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://commonroom.info/news/2005_12_01_x.html"&gt;http://commonroom.info/news/2005_12_01_x.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.dotphoto.com/Go.asp?l=commonroom&amp;P=537D&amp;amp;amp;amp;amp;AID=3108850&amp;amp;Show=Y"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-4601465733181925553?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/4601465733181925553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/4601465733181925553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2007/03/tribute-to-madam-chiang.html' title='A Tribute to Madam Chiang'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-113220345036928541</id><published>2005-11-17T11:28:00.002+07:00</published><updated>2005-11-17T11:57:30.446+07:00</updated><title type='text'>Java Jazz Festival Gallery</title><content type='html'>Di halaman ini ada foto-foto Jendela Ide Kids Percussion ketika main di &lt;a href="http://www.javajazzfestival.com/album/index.php?folder=/Adjie%20Rao%20%26%20Jendela%20Ide%20Kids%20Percussion/" target=new&gt;Java Jazz Festival&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-113220345036928541?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/113220345036928541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/113220345036928541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/11/java-jazz-festival-gallery_113220345036928541.html' title='Java Jazz Festival Gallery'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-113212437746374320</id><published>2005-11-16T13:54:00.000+07:00</published><updated>2005-11-16T13:59:37.483+07:00</updated><title type='text'>Liburan ke Bandung sambil nonton musik jazz di udara terbuka</title><content type='html'>Sebuah pertunjukan di udara terbuka dilingkungan sebuah lembaga pendidikan akan digelar akhir pekan ini Sabtu, 24 September 2005 di Kota Kembang, Bandung. Sekitar tujuh kelompok yang rata-rata musisi jazz pemula di Bandung akan unjuk kebolehan dalam sebuah acara bertajuk &lt;strong&gt;Jendela Jazz.&lt;/strong&gt;         &lt;p&gt;Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati 10 tahun &lt;em&gt;Jendela Ide&lt;/em&gt;, dimulai sejak bulan April, dimana setiap bulannya, Jendela Ide menyelenggarakan program pertunjukan beragam jenis musik untuk apresiatif. Setelah bulan-bulan sebelumnya program tersebut diisi diantaranya oleh “Musik Oriental”, “Musik Latin-Salsa”, dll., untuk bulan September ini, bekerjasama dengan &lt;strong&gt;KlabJazz &lt;/strong&gt;dan didukung oleh &lt;em&gt;WartaJazz.com &lt;/em&gt;rencananya akan diisi dengan ”Musik Jazz”. &lt;/p&gt;         &lt;p&gt;Pertunjukan yang akan menampilkan kelompok asal bandung yakni            &lt;strong&gt;Brew Ensemble,    Edward Trio,    Pineapple,    Bandung String Trio,    Jendela Ide Kids Percussion, Erlan Effendy dan Sekapur Sirih &lt;/strong&gt;digelar di Deutsche Schule Bandung – Jendela Ide, Jl. Kyai Gede Utama 12 Bandung pukul 18.30 hingga selesai dengan tanda masuk &lt;strong&gt;Rp. 10.000,- &lt;/strong&gt;Informasi lebih lanjut silakan menghubungi  Jendela Ide Telp. 022 2501925 atau KlabJazz – Niman  08172388862.&lt;/p&gt;         &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;***&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;&lt;strong&gt; KLABJAZZ.&lt;br /&gt;      &lt;/strong&gt;KlabJazz adalah sebuah perkumpulan/klab yang berkecimpung dalam usaha memasyarakatkan musik jazz melalui beragam kegiatan, di antaranya; Pertemuan Mingguan setiap hari Minggu sore untuk apresiasi musik jazz, yang hingga saat ini telah diisi dengan pemutaran video-video jazz, diskusi musik jazz, serta penyelenggaraan berbagai pertunjukan musik jazz. Informasi lebih lanjut mengenai kiprah mereka dapat disimak di &lt;a href="http://www.commonroom.info/klabs/jazz" target="_blank"&gt;http://www.commonroom.info/klabs/jazz&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;        &lt;strong&gt;JENDELA IDE&lt;br /&gt;      &lt;/strong&gt;Jendela Ide adalah sebuah wadah aktivitas anak dan remaja, yang bertujuan menstimulir perspektif budaya anak dan remaja, melalui berbagai kegiatan senirupa, teater, bahasa-sastra, olah bunyi dan gerak, yang diwujudkan dalam program berkreasi, pameran, pertunjukan, pemutaran film, diskusi, pelatihan, penulisan dan pendokumentasian. Kegiatan Jendela Ide berasaskan penghargaan terhadap: kreativitas, keunikan individu/kelompok, keberagaman, serta pemahaman silang budaya. Info lebih lanjut silakan buka &lt;a href="http://www.jendelaide.blogspot.com/" target="_blank"&gt;http://www.jendelaide.blogspot.com &lt;/a&gt;       &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;***&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p align="left"&gt;Tentu tidak lengkap jika kita tidak menyimak mereka yang berencana akan tampil dalam kegiatan kali ini. Selengkapnya kami sajikan dalam tulisan berikut: &lt;/p&gt;         &lt;strong&gt;BREW ENSEMBLE&lt;br /&gt;       &lt;/strong&gt; Brury Effendi – trumpet; Julianus - trumpet. Arief Rinoko – alto saxophone; Ivan Indramsyah – trombon; Mira – tenor saxophone; Edward Prasetya – gitar; Edward Manurung – drum; Lindu – elektrik bass &amp; Donny Herdanto – keyboard.  &lt;p&gt; &lt;img src="http://www.wartajazz.com/images/news200905_clip_image002.jpg" align="left" height="216" width="288" /&gt;Brew Ensemble adalah salahsatu kelompok yang lahir dari Latihan Bersama Jazz (LaBJazz) bersama Imam Pras dan Rudy Aru. Awalnya disiapkan untuk meramaikan peristiwa JazzAID; Konser Untuk Korban Tsunami yang diselenggarakan di Pusat Kebudayaan Perancis – CCF de Bandung oleh KlabJazz di awal Februari lalu. Juga turut meramaikan juga, bahkan membuka penyelenggaraan musik jazz yang diselenggarakan juga oleh KlabJazz bertajuk Pekan Jazz Priangan di pertengahan bulan Juli yang lalu sebagai penampil pertama dari 39 kelompok musik jazz yang tampil selama enam malam tersebut. Akhir Agustus Brew Ensemble diberi kehormatan untuk tampil sebagai kelompok pembuka konser amal Zagreb Jazz Orkestar di Ramayana Room, Hotel Grand Preanger.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt; Brew Ensemble berpusat pada lima atau lebih anggota yang khusus memegang instrumen tiup; dua terompet, satu saxophone alto, satu saxophone tenor/bariton, satu trombone dan kadang satu flute. Oleh karenanya &lt;em&gt;rhythm section&lt;/em&gt; kadang berubah-ubah.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt; Repertoir mereka cenderung memilih komposisi-komposisi musik era &lt;em&gt;hardbop&lt;/em&gt; yang kental dengan elemen funk dan groove.&lt;/p&gt;        &lt;strong&gt; EDWARD TRIO&lt;br /&gt;      &lt;/strong&gt;Edward Prasetya - elektrik gitar; Lindu Muliantara – elektrik bass &amp; Edward Manurung – drum.         &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.wartajazz.com/images/news200905_clip_image004.jpg" align="left" height="207" width="276" /&gt;Tiga personil Brew Ensemble yang memberanikan diri tampil dalam format trio. Dimotori oleh gitaris Edward Prasetya. Repertoir mereka cenderung lebih ke komposisi-komposisi musik neo hardbop karya Miles Davis dan John Coltrane dengan sedikit elemen rock gaya John Scofield. &lt;/p&gt;         &lt;p&gt;Tampil pertama kali di Pekan Jazz Priangan, Edward saat itu dibantu oleh rekan-rekannya dua personil Trancemission Quintet, bassi Christian dan drummer … Sementara di Friday Night Jazz@The Cellar, Edward sempat dibanru oleh bassis Rudy Aru (yang memainkan elektrik bass) dan drummer Opik.&lt;/p&gt;        &lt;strong&gt; &lt;img src="http://www.wartajazz.com/images/news200905_clip_image006.jpg" align="right" height="207" width="276" /&gt;PINEAPPLE&lt;/strong&gt;      &lt;br /&gt;       Ahmad Indra – gitar; Sartono – keyboard; Dicky – saxophone/flute. Sonny – bass. Ule – drum.  &lt;p&gt;Kelompok yang terdiri dari para murid gitaris jazz senior kota Bandung Venche Manuhutu. Nama Pineapple pertamakali tampil di Pekan Jazz Priangan bulan Juli yang lalu. Ini adalah untuk ketiga kalinya Pineapple tampil di hadapan publik. Gitaris utamanya, Ahmad Indra pertamakali tampil untuk di acara KlabJazz, saat ia masih bergabung bersama kawan-kawan klassiknya di KlabKlassik dan tampil di acara JazzAid di CCF bulan Februari yang lalu. &lt;/p&gt;         &lt;p&gt;&lt;strong&gt;BANDUNG STRING TRIO &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;      Ammy Kurniawan – elektrik biola; Didin – elektrik gitar; Balqi Lesmana – elektrik bass. &lt;/p&gt;         &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.wartajazz.com/images/news200905_clip_image008.jpg" align="left" height="207" width="276" /&gt;Bandung String Trio berpusat pada pemain biola Ammy Kurniawan. Salahsatu “peniti” dari 4 Peniti. Nama Bandung String Trio diperkenalkan untuk pertamakali pada acara Bandung Jazz Statement Desember tahun lalu. Awalnya adalah proyek untuk memperkenalkan ke hadapan publik bahwa format baku (dengan drum dan atau keyboard) tidak merupakan suatu keharusan dalam mendirikan sebuah “working group”. Bassis dan gitaris berganti-ganti, kadang Rudy Aru dan Hery Wijaya bermain pada bass akustik, dan kadang Rizky Diansyah dan Ardi memainkan gitar.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt; Walau awalnya dimaksud untuk menunjukan kekuatan tiga instrumen string akustik, namun pada Jendela Jazz ini Bandung String Trio akan berembel-embel “Electric” menjadi Bandung Electric String Trio.&lt;/p&gt;        &lt;strong&gt;JENDELA IDE KIDS PERCUSSION&lt;br /&gt;      &lt;/strong&gt;&lt;img src="http://www.wartajazz.com/images/news200905_clip_image010.jpg" align="left" height="98" width="95" /&gt; Jendela Ide Kids Percussion didirikan tiga tahun yang lalu, sebagai salah satu bentuk kegiatan dari kegiatan budaya yang diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja yang diselenggarakan oleh Jendela Ide (JI). Awalnya terkumpul dua puluh anak-anak dan remaja yang mempelajari rebana dibawah bimbingan Jaelani, fasilitator JI untuk musik anak-anak. Melalui proses tersebut terkumpul beberapa anak yang meminati lebih jauh untuk mempelajari alat musik Afrika djembe. Kemudian JI mengundang fasilitator Adjierao dan Atmo untuk mengajari mereka secara berkala, hingga akhirnya terbentuk kelompok perkusi anak yang solid. Jendela Ide Kids Percussion (JIKP) dan Jendela Ide Junior Percussion kemudian pun sering tampil pada penyelenggaraan seni dan budaya di Bandung maupun di Jakarta. Tahun 2004 JIKP turut serta dalam &lt;em&gt;workshop&lt;/em&gt; perkusi bersama penabuh djembe asal Burkina Faso, Afrika, dan beserta komponis Tomoko asal Tokyo Jepang.        &lt;p&gt; Tahun ini JIKP sempat tampil di JazzAID Konser di CCF-Bandung, Java Jazz Festival di JHCC-Jakarta, serta menjadi kelompok pembuka pertunjukan musik jazz Trio Dingo asal Australia di Aula Timur ITB.&lt;/p&gt;        &lt;strong&gt; ERLAN EFFENDY&lt;br /&gt;      &lt;/strong&gt;Vokalis kelompok Top40 Bandung ternama Wachdach ini pernah mengungkapkan keinginan pribadinya untuk juga mencoba tampil menyanyikan karya-karya standard dengan irama swing. Mungkin akan tampil dengan karya-karya rb-jazz seperti karya-karya Al Jarreau dan Michael Buble, namun hingga tulisan ini dibuat belum menemukan kelompok pengiring yang pasti. Kita lihat saja…  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;SEKAPUR SIRIH &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Prasandhya - elektrik bass; Bonar Noviasta - gitar; Andreas Nandhiwardana - gitar; Lukman Agus - drum; Rara Utami– keyboard. &lt;/p&gt;         &lt;p&gt; Kelompok musik yang beranggotakan anak-anak Unit Apres(iasi) ITB. Pertamakali dikenal oleh KlabJazz pada saat penyelenggaraan Ganesha Jazz Event, yang juga diselenggarakan oleh Unit Apres ITB bekerjasama dengan KlabJazz (kemudian beberapa di antara mereka pun aktif membantu pada kegiatan-kegiatan KlabJazz). Repertoir SekSi berkisar pada karya-karya akustik fusion Acoustic Alchemy dan Lee Ritenour. Sejak itu SekSi selalu tampil pada &lt;em&gt;event-event&lt;/em&gt; KlabJazz; JazzAID, Gerbang Jazz Unpad hingga Pekan Jazz Priangan. Dan mulai sering diundang pada &lt;em&gt;event-event&lt;/em&gt; jazz di kota Bandung, seperti pada Jazztastic dan acara-acara kampus di kota Bandung. Hadirnya aktivis KlabJazz termuda pianis Rara Utami (16 tahun) pada formasi SekSi menjadikan SekSi berubah menjadi quintet, walau sebelumnya juga pernah mencoba menghadirkan pemusik akordeon dan saxopon. &lt;strong&gt;(&lt;em&gt;*/Agus Setiawan B/WartaJazz.com&lt;/em&gt;)&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sumber: http://www.wartajazz.com/news/news200905.html&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-113212437746374320?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/113212437746374320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/113212437746374320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/11/liburan-ke-bandung-sambil-nonton-musik.html' title='Liburan ke Bandung sambil nonton musik jazz di udara terbuka'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-113212569884894569</id><published>2005-08-19T14:14:00.000+07:00</published><updated>2005-11-16T14:21:38.943+07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Komunitas, Solusi di Tengah Krisis?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bukan untuk Mengontradiksikan dengan Kurikulum dan Paradigma yang             Dijalankan Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;p&gt;"Setiap warga negara berhak mendapat             pendidikan".&lt;br /&gt;            "Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib             membiayainya." (Pasal 31 Amendemen UUD 1945 ayat 1 dan ayat 2). &lt;/p&gt;             &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;GENAP 60 tahun sudah, sejak proklamasi kemerdekaan negeri ini digaungkan oleh dua &lt;i&gt;founding             fathers&lt;/i&gt;, Soekarno-Hatta. Melihat fakta kehidupan sosial berbangsa dewasa ini, sulit             untuk tidak mengakui bahwa masih banyak ketimpangan dan persoalan pelik yang tetap saja             menggerogoti kehidupan bangsa ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pendidikan adalah potret nyata betapa kemerdekaan sejatinya baru dalam tataran &lt;i&gt;de             jure&lt;/i&gt;. Sebab, &lt;i&gt;de facto&lt;/i&gt; mayoritas warga negeri ini masih harus bercucuran             keringat deras, air mata, bahkan darah untuk memenuhi pendanaan pendidikan anak-anak             mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Fakta tersebut menambah panjang kisah memilukan pendidikan di negeri ini yang penuh             ironi. Betapa masih menggantungnya persoalan-persoalan pelik dalam sistem pendidikan kita.             Mulai dari runtuhnya kewibawaan guru karena beragam sebab, robohnya bangunan-bangunan             sekolah di tengah semakin mewabahnya gejala konsumtivisme, seiring berdirinya ribuan mal             dan pusat perbelanjaan, eksperimen kurikulum dengan &lt;i&gt;grand design&lt;/i&gt; yang tidak jelas,             komersialisme dunia pendidikan, hingga degradasi mutu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pendidikan komunitas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;, di tengah gejala termarginalkannya upaya peningkatan kualitas pendidikan             secara serius oleh pemerintah muncul fenomena sosial tersendiri di tengah masyarakat.             Seakan ingin membuktikan secara nyata konsep &lt;i&gt;civil society&lt;/i&gt; (masyarakat madani),             pada paruh kedua dekade reformasi semakin banyak kelompok masyarakat yang membangun model             pendidikan sendiri. Umumnya, model ini berupaya menjawab sendiri kebutuhan akan kesamaan             kesempatan belajar dan meningkatkan kualitas anak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kekuatan-kekuatan sosial masyarakat menawarkan konsep pendidikan yang terjangkau,             ketika lembaga pendidikan formal berperilaku layaknya saudagar. Dalam konsep mereka, tak             usah lagi silau oleh deretan gelar dari lembaga pendidikan formal, yang sebenarnya tak             lagi menampilkan kesejatian hakikat pendidikan yang membebaskan dan mencerahkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Beberapa pegiat pendidikan di komunitas --istilah untuk konsep pendidikan alternatif             tersebut-- berkumpul di Kota Bandung untuk melaksanakan &lt;i&gt;workshop&lt;/i&gt; bertajuk             "Inisiatif Masyarakat Membangun Model Pendidikan untuk Anak" di Aula Taman             Budaya Jabar, 18-19 Agustus ini. Beberapa pegiat, aktivis LSM, akademisi yang hadir antara             lain Andar Manik (Jendela Ide), Sutrisno Setiawan (SOS Kinderdof), Marintan Sirait,             Valentina Sagala (Institut Perempuan), Ridwan Intje (MTs Sururon Garut), Susilo Adi Negoro             (Sanggar Akar), dll.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Kegiatan ini sekaligus merupakan pemetaan berbagai lembaga pendidikan di             komunitas. Terkait dengan momen awal tahun ajaran baru, ini juga menjadi kampanye             pengembangan pendidikan bagi anak. Selain &lt;i&gt;workshop&lt;/i&gt;, digelar &lt;i&gt;road show&lt;/i&gt;             pameran karya dan seni pertunjukan komunitas anak," ungkap koordinator &lt;i&gt;workshop&lt;/i&gt;,             Andar Manik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Ajang ini menjadi penting, ketika muncul pertanyaan yang mengaitkannya dengan &lt;i&gt;grand             design&lt;/i&gt; pendidikan nasional yang diusung pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Apakah dalam &lt;i&gt;grand design&lt;/i&gt; pendidikan nasional, model pendidikan komunitas bakal             mendapat pengakuan? Bagaimanakah model pendidikan yang diinisiasi masyarakat ini,             dikaitkan dengan UU Sisdiknas serta birokrasi pendidikan dengan sejumlah regulasinya?             Bagaimana peluang menempatkan model pendidikan komunitas dalam garis kebijakan pendidikan             nasional?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Kami tak hendak mengontradiksikan model pendidikan yang kami inisiasi dengan             kurikulum maupun paradigma yang dijalankan pemerintah. Kami menawarkan pelengkap di tengah             kondisi yang kami nilai masih banyak kelemahan," tuturnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Harapan mereka, pemerintah tidak malah bersikap resisten atas model pendidikan             alternatif yang ditawarkan. Model pendidikan alternatif itu sekadar menawarkan jawaban             sederhana: pendidikan sebagai medium pembebas, bukan pemberi beban (moril dan materiil).             (Erwin Kustiman/"PR")***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0805/19/0302.htm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-113212569884894569?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/113212569884894569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/113212569884894569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/08/pendidikan-komunitas-solusi-di-tengah.html' title='Pendidikan Komunitas, Solusi di Tengah Krisis?'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-113212489020926741</id><published>2005-08-05T14:00:00.000+07:00</published><updated>2005-11-16T14:08:10.510+07:00</updated><title type='text'>First Day's Notes from Art Camp's Public Presentation</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;The first day of Art Camp, begin with lectures in Selasar Sunaryo Artspace that split into two sessions. The participant involve in this program until late in the afternoon. They use public transportation to set off from their accommodation site toward lecture's venue as well as the excursion location. This is part of the Art Camp Program that requiring the participant to utilize public transportation. After a quite intense session, the participant engages in an excursion to Jendela Ide. In this place, they are making interaction with the kids from Jendela Ida Kids Percussion and discovering Jendela Ide's Programs as a cultural center for children and teen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The day ends with presentations from Art Camp's participants. This program takes place in CCF presenting 10 students in 2 sessions. In general, the European participants disclosing responds to their social environs. As a case, Nanna Debois Buhl's works offering interesting approach as it is presenting gender and feminism topic as a minor issue in North Europe. On the other side, the Asia's participants seem more stimulate in revealing their individual aspect and their own anxiety. Nonetheless, their works still based on social problem encircle them, as it revealed in the video and photographs by Erik Pauhrihzi (Indonesia) and animation by Nareerud Sompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some of the participants seem wearing by their day's programs. But some of them still find some strength to sightseeing Bandung and its Saturday's night crowd and doing their 36 Frames Workshop.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;hr /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;em&gt;Bahasa Indonesia&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Catatan dari Public Presentasi Art Camp Hari Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Hari pertama gelaran Art Camp dimulai dengan lecture yang dibagi menjadi dua sesi di Selasar Sunaryo Art Space. Para peserta mengikuti sesi ini hingga sore tadi. Peserta Art Camp menggunakan angkutan kota sebagai alat transportasi dari tempat mereka menginap ke tempat-tempat yang telah ditentukan untuk mengikuti lecture ataupun ekskursi. Ini memang bagian dari program Art Camp yang mengharuskan mereka untuk mencoba angkutan umum di Bandung. Setelah kegiatan yang cukup serius, peserta pun mengadakan ekskursi ke Jendela Ide. Di sana mereka bisa bermain bersama anak-anak dari Jendela Ide Kids Percussion dan mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Jendela Ide sebagai pusat budaya untuk anak-anak dan remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan hari ini ditutup dengan presentasi peserta Art Camp. Ini dilakukan di CCF menghadirkan 10 siswa terbagi dalam 2 sesi. Pada umumnya peserta dari Eropa menampilkan respon terhadap keadaan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Contohnya seperti karya dari Nanna Debois Buhl. Karyanya menarik karena membicarakan gender dan feminisme di Eropa Utara, di mana isu itu tampaknya tidak lagi dilihat sebagai masalah besar. Berbeda dengan peserta dari Asia, karya-karya mereka lebih 'individual' dalam pengertian, generasi Asia pada saat ini lebih berani mengungkapkan sisi individual dan kegelisahan-kegelisahan individu. Meski tetap berakar dari konteks persoalan sosial yang ada di sekeliling mereka, seperti yang nampak pada video dan foto-foto karya Erik Pauhrihzi (Indonesia) dan animasi karya Nareerud Sompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian peserta merasa lelah dengan kegiatan yang mereka lakukan hari ini. Namun tidak sedikit peserta yang melanjutkan jalan-jalan dan mengerjakan workshop 36 Frames sambil menikmati Bandung di malam minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: http://commonroom.info/bcfnma/artcamp2005/2005/08/first-days-notes-from-art-camps-public.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-113212489020926741?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/113212489020926741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/113212489020926741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/08/first-days-notes-from-art-camps-public.html' title='First Day&apos;s Notes from Art Camp&apos;s Public Presentation'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111971010209397180</id><published>2005-06-25T21:30:00.000+07:00</published><updated>2005-06-25T21:35:02.193+07:00</updated><title type='text'>Botol-botol pun Bernotasi ”Daminatila”</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;SEPERTINYA, musik bisa dianggap sebagai salah sebuah bidang yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Atas nama kebebasan berekspresi itulah, lakuan apa pun terhadap musik menjadi sah adanya, termasuk dalam hal alat apa yang digunakan saat menyuguhkan musik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di dalam khazanah musik kontemporer, apa pun di dunia bisa dianggap sebagai musik. Desir angin bisa dianggap musik. Pun demikian kicau burung, deru ombak, gemerecik air, gonggongan anjing, auman harimau, dan sebagainya. Bahkan, seniman bengal asal Bandung Harry Roesli (alm.) memandang bahwa pukulan pada kaleng kerupuk adalah musik. “Ini Jazz,” tegasnya dalam sebuah festival musik Jazz di Jakarta, beberapa tahun lalu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berlatar pemahaman itu jugalah agaknya sejumlah murid SMAN 16 Bandung membentuk sebuah kelompok perkusi. Mereka didaulat tampil di Auditorium Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) pada hari terakhir pelaksanaan Festival Kebebasan Berekspresi, Ahad (5/6). Uniknya, mereka menggunakan sejumlah barang yang “tak lazim” sebagai pendukung penampilan, seperti tong (seng dan plastik), galon air mineral, rantang, dan berjenis botol minuman yang terbuat dari beling. Tentu saja, selain itu, mereka juga menggunakan sejumlah alat musik ”konvensional”, seperti kendang, terbang, dan kacapi. Satu lagi alat musik yang “aneh” adalah dolidu, alat musik yang tampaknya terbuat dari kayu sepanjang kira-kira 1,2 meter, berbentuk menyerupai klarinet, dan memiliki suara yang ”superbas”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saat tampil, ternyata kendang dan kacapi tak mendominasi suguhan, sebagaimana biasa terdengar di dalam pentas musik --khususnya yang mengusung ”aroma” Sunda. Di dalam beberapa repertoar yang dimainkan, kacapi ”hanya” berfungsi sebagai pembuka. Itu pun cuma digenjreng, bukan dengan petikan yang kemudian memunculkan melodi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pun demikian, kendang tak difungsikan maksimal.Tepakan-tepakan kecil saja yang diberikan kepada alat musik tersebut. Suaranya bahkan kalah keras dengan tabuhan pada terbang (yang dijadikan sebagai penutup ”buntut” galon air mineral), rantang, dan pukulan pada tong yang menyerupai genderang perang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sepanjang penampilan, fungsi melodi ”dibebankan” sepenuhnya kepada botol tadi. Empat belas botol dari berbagai ukuran dideretkan ”bersap”. Dua gadis bertugas sebagai penabuh. Ternyata, botol-botol itu memiliki notasi mirip dengan tangga nada musik Sunda, daminatila. Terlepas dari pola permainan yang belum begitu harmonis, keberanian menggunakan sejumlah barang ”tak lazim” dan kemudian memasukkan ke dalam musik layak diacungi jempol. Itulah salah satu wujud kebebasan berekspresi, setidaknya di dalam musik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ruang luas” kebebasan berekspresi rupanya tak dimanfaatkan oleh siswa-siswi SMP Assalaam Bandung saat tampil pada rangkaian sebelumnya. Delapan djimbe (alat musik pukul khas Afrika) yang digunakan, hanya ditabuh dengan ”polos”, sekadar pengiring akor dan melodi. Sama sekali tak terjadi improvisasi pada alat musik pukul tersebut guna memberikan roh pada penampilan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dua puluh tiga siswa-siswi yang terlibat sebagai pemusik. Delapan penabuh djimbe, 2 orang penabuh saron, seorang pada kecrek, seorang pemain keyboard, dan sebelas pemain angklung. Mengawali penampilan, mereka menyuguhkan lagu “Kopi Dangdut”, di mana angklung dan keyboard bertindak sebagai melodi. Itu tadi, tak ada yang ”aneh” sepanjang lagu tersebut. Semua alat musik yang dimainkan tampak tak ingin ”keluar” dari jalur lagu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat interlude, yang muncul justru intro lagu ”Final Countdown” pada keyboard. Padahal, yang terbayangkan, djimbe dan saron ”berduet” --dengan berbagai model tabuhan-- sehingga performa menjadi lebih berwarna. ”Duet” saron dan djimbe sempat sesaat terdengar begitu mereka mengawali repertoar ketiga, “Pengalaman Pertama”. Sama halnya dengan repertoar pertama, tak terjadi ”eksplorasi” pada pukulan djimbe dan saron. Pada saat itu, yang justru dimunculkan adalah bagian refrain lagu ”Cindai”. Alhasil, penampilan ”polos” murid SMP Assalaam itu hanya berlangsung selama 15 menit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pukulan pada djimbe yang penuh warna baru didapat ketika pengisi acara berikutnya ditampilkan, Jendela Ide Kids Percussion. Berbagai improvisasi mahir mereka lakukan dalam beberapa repertoar yang disuguhkan. Sesekali, masing-masing dibiarkan menampilkan atraksi pukulan djimbe. Uniknya, ”segila” apa pun anak-anak asuhan Adjierao itu berimprovisasi, tak pernah keluar dari tempo yang menjadi ”jalur utama” penampilan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Entah mengapa, terasa ada sesuatu yang kurang pada penampilan Jendela Ide, kali ini. Meski mereka bisa dikatakan tampil all out, terasa penampilan itu kurang menggigit. Apalagi, jika dibandingkan ketika mereka tampil di ajang Jakarta International Java Jazz Festival, dua bulan lalu di Jakarta. Penampilan menggigit semakin ditegaskan oleh penampilan musisi asing Steve Reid dan penampilan para penari dari Deddy Luthan Dance Company. (Hazmirullah/”PR”)***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0605/06/0108.htm"&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0605/06/0108.htm&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111971010209397180?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111971010209397180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111971010209397180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/06/botol-botol-pun-bernotasi-daminatila.html' title='Botol-botol pun Bernotasi ”Daminatila”'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111045246735822462</id><published>2005-03-06T17:28:00.000+07:00</published><updated>2005-03-11T12:44:02.273+07:00</updated><title type='text'>"Inilah Pesta Jazz yang Sesungguhnya..."</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;TIDAK ada kata yang lebih pantas untuk disematkan kepada penyelenggaraan Jakarta International Java Jazz Festival (JIJJF) 2005, selain kata luar biasa. Setelah pembukaan pada hari pertama Jumat (4/3) lalu, mendapat sambutan yang sangat antusias oleh masyarakat pencinta jazz Tanah Air. Pada hari kedua semalam (5/3), animo masyarakat semakin membludak saja.&lt;br /&gt;Betapa tidak, setelah disentak oleh aksi para legenda musik jazz dunia seperti George Duke dan The Godfather of Soul James Brown serta beberapa ikon penting lainnya. Semalam, giliran Deodato, Earth Wind &amp; Fire Experience Feat Al Mckay All Star serta Incognito membius ribuan apresian yang menyesak di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC). Bahkan, sambutan luar biasa ini juga ditunjukkan di sepuluh arena atau hall lainnya yang menyuguhkan aksi dari para jazzer terkemuka Tanah Air dan mancanegara. Lihatlah, ketika JIJJF yang secara resmi saban harinya dimulai mulai pukul 14.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB senantiasa dijejali oleh penikmatnya.&lt;br /&gt;Sehingga tak syak, ajang yang digagas oleh berbagai elemen yang berikhtiar membangun kembali citra positif Indonesia di dunia internasional ini berlangsung tak ubahnya fiesta rakyat yang sesungguhnya. Lihatlah, betapa tampilan pemain jazz Tanah Air seperti Adjierao &amp;amp; Jendela Ide Kids Percussion, Aksan Sjuman Quartet, Andien, Bali Lounge and Gita Wiryawan, Bayu Wirawan Trio, Bertha &amp; Friends, Bintang Indrianto &amp;amp; Sujiwo Tejo, Bubi Chen Quartet, Bunglon, Canizzaro Featuring Mus Mujiono, Cherokee, Clorophyl, CO-P, D'Band, DJ Glenn serta beberapa nama lainnya tetap mendapat sambutan yang sangat hangat dari penikmat jazz.&lt;br /&gt;Sebagaimana dituturkan promotor JIJJF Peter F Gonta, musik jazz yang kerap diidentikkan sebagai musik yang (cenderung) berat dan hanya diminati oleh kalangan tertentu, tampaknya telah mengalami pergeseran makna. Lihatlah penikmat JIJJF, dari remaja usia belasan hingga paruh baya tumplek blek di sebelas arena yang tersedia.(Benny Benke-78) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.suaramerdeka.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://www.suaramerdeka.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111045246735822462?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045246735822462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045246735822462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/03/inilah-pesta-jazz-yang-sesungguhnya.html' title='&quot;Inilah Pesta Jazz yang Sesungguhnya...&quot;'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111149320288514296</id><published>2005-03-05T19:00:00.000+07:00</published><updated>2005-03-22T19:06:42.886+07:00</updated><title type='text'>Jazz lovers finally get their fill</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;March 5, 2005&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;The Jakarta Post&lt;/strong&gt;, Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;It was a night of delight for jazz lovers, as dozens of international and local acts performed and interacted on the first day of the Java Jazz Festival on Friday.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Continuous performances gave jazz lovers reason to be thankful that noteworthy music acts had finally come to the capital. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Performers took turns in taking to the 11 stages, erected inside the Jakarta Convention Center (JCC) in Senayan, Central Jakarta. Some of the stages were set up in open spaces and without barriers so that the audience could closely watch and interact with the performers. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The festival kicked off with a powerful traditional Acehnese dance performance by the Dedy Luthan Dance Company accompanied by percussionist Steve Reid, Adjie Rao and scores of child percussion players. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The child percussionists managed to outshine the dance performance with a polished knack that could put Led Zeppelin's John Bonham to shame. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;No sooner had the opening performance wrapped up when lyrical flamenco guitar playing was heard from the stage closest to the main hall entrance. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;A guitar duo of the Romero's quickly drew a crowd, and for 30 minutes they listened to flamenco-tinged songs. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The festival came to full life later in the evening when more people swarmed the convention center for the performances of piano player George Duke, female crooner Laura Fygi and ultimately the performance of the godfather of soul, James Brown. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The air was electric with expectation, and concertgoers patiently waited for the piano-playing Duke when his stage appearance was delayed for more than 45 minutes. And when Duke finally appeared, the audience applauded thunderously. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Some last-minute changes in the schedule irritated some who had arranged their time to fit in with a particular show. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"I had a tight schedule today but managed to keep after 8 p.m. free so I could watch Laura Fygi. She was the reason I bought the ticket," said patron Johan Kusnadi.&lt;br /&gt;"But they changed the schedule to seven o'clock and I missed Laura's show." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fygi, who got a standing ovation on Friday night, said she was worried she would be confronted with an empty room because of the change in schedule. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;However, many people had been at JCC since performances stared in the afternoon so they knew about the changed schedule. About 500 people packed Assembly I room at JCC to watch the Dutch crooner and her band. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Source : &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.thejakartapost.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://www.thejakartapost.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111149320288514296?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111149320288514296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111149320288514296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/03/jazz-lovers-finally-get-their-fill.html' title='Jazz lovers finally get their fill'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111045010676606512</id><published>2005-03-05T17:13:00.000+07:00</published><updated>2005-03-11T12:54:42.476+07:00</updated><title type='text'>Jakarta Digoyang Jazz</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sabtu, 5 Maret 2005&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA—Publik jazz di Tanah Air punya gawe besar. Jakarta International Java Jazz Festival 2005 (JIJJF) mulai digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (4/3) kemarin pukul 16.00 WIB.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebanyak 42 pertunjukan di sebelas panggung In-door digelar hingga Sabtu (5/3) pukul 01.45 WIB. Salah satu dari penampil pembuka pada hari pertama JIJJF adalah kerja sama suguhan musik perkusi yang menampilkan Adjie Rao, Steve Reid, dan tujuh pemain perkusi yunior dari Jendela Ide Bandung. Aksi para musisi jazz itu makin rancak dengan tampilnya para penari dari Deddy Luthan Dance Company. Mereka berhasil menarik perhatian banyak penonton di lobi Plenary Hall JCC. Mereka bergoyang rancak mengikuti irama musik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam pertunjukan selama sekitar satu jam itu, mereka menampilkan lima nomor. Saat para pemusik beraksi, sepuluh penari menyajikan koreografi yang dibikin sesuai dengan irama musik tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penampilan itu mampu menarik para penonton, terutama, karena menghadirkan tujuh pemain perkusi yang masih berusia belia antara 9-12 tahun. Adjie Rao dan kawan-kawan berlatih selama sebulan (seminggu dua kali) untuk tampil di JIJJF. Penggabungan antara musik dan tarian baru dilakukan dua minggu belakangan atas gagasan pihak penyelenggara JIJJF.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertunjukan lain yang juga mampu menarik perhatian banyak penonton adalah suguhan musik bosanova dari Elfa Secioria dan kawan-kawan yang menamakan diri mereka Elfa’s Bossas. Mereka tampil pada pukul 17.00 hingga pukul 17.40 WIB di Assembly Hall 1. Sekitar 200 penonton memenuhi ruangan itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Elfa’s Bossas terdiri atas Elfa Secioria (piano akustik), 14 pemusik pendukung, dan empat vokalis yang terdiri dari Lita Zen, Uci Nurul, Vera, dan Yuyun. Mereka membawakan lagu-lagu berirama bossas dari luar negeri yang sudah terkenal seperti “Girl from Ipanema”, “Tangerine”, “Solitude”, “Adios America”, dan “Shadow of Your Smile”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Para penonton yang dibuai irama bossas pun ikut bertepuk tangan dan menyanyi mengikuti sajian mereka. Setelah Elfa’s, penampil yang muncul adalah George Duke yang menampilkan Glen Fredly sebagai bintang tamu. Lalu Ruth Sahanaya yang tampil bersama Jeff Kashiwa All Stars. Kemudian disusul Sujiwo Tejo menampilkan Bintang Indrianto, Simak Dialog, Nera dengan Gilang Ramadhan-nya, Tania Maria, Krakatau yang dipimpin oleh Dwiki Dharmawan, dan James Brown.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kendati pertunjukan sudah berlangsung, loket tiket di JCC tetap dibuka untuk memberikan kesempatan kepada calon penonton menyaksikan JIJJF baik untuk pertunjukan malam maupun pertunjukan Sabtu hari ini dan Ahad besok. (kcm)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.dutamasyarakat.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://www.dutamasyarakat.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111045010676606512?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045010676606512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045010676606512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/03/jakarta-digoyang-jazz.html' title='Jakarta Digoyang Jazz'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111044957463986958</id><published>2005-03-05T17:08:00.000+07:00</published><updated>2005-03-11T13:11:36.790+07:00</updated><title type='text'>Java Jazz Nan Meriah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sabtu , 05/03/2005 02:26 WIB&lt;br /&gt;Reporter: Ana Shofiana S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detikhot - Jakarta, Event internasional yang banyak ditunggu pecinta musik jazz Indonesia akhirnnya tiba. Di hari pertama, puluhan ribu penikmat musik memenuhi Jakarta Convention Center.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tepat pukul 16.00 WIB, Java Jazz dibuka di lobi area Jakarta Convention Center. Kolaborasi etnik Dedi Luthan Dance, Adji Rao, Jendela Ide Kids Production dan Steve Reid berhasil menyita perhatian penonton yang baru hadir. Tarian etnik dan musik etnik menyatu memanjakan mata dan telinga.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selanjutnya, panggung yang berjumlah sebelas mulai diramaikan dengan musik dari berbagai aliran jazz. Seperti di ruang Assembly Hall, Sudjiwo Tejo cukup berhasil menyedot perhatian penonton dengan etnis jazznya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak hanya budayawan nyentrik itu yang dinanti penonton. Penampilan The Groove di Cendrawasih Room juga berhasil menyedot perhatian anak muda. Walau tak lagi bersama Rika, Reza tampil prima dan mampu mengajak penonton bergoyang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masih banyak lagi musisi yang tampil di Java Jazz hari pertama ini. Selain penampilan James Brown di penghujung acara, kehadiran George Duke yang berkolaborasi dengan Glen Fredly juga cukup dinanti. Tak hanya itu, penonton juga tak melewatkan kolaborasi indah Ruth Sahanaya dengan Jeff Kashiwa di Plennary Hall.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain sajian utama di atas, penonton yang memiliki selera beragam bisa memilih selera musik yang disukainya. Menyukai Sound of rhythm, cukup ke ruang Assembly 1. Di sana ada Elfa's Bossa's, Laura Fygi dan Tania Maria yang tampil secara bergantian. Krakatau yang biasa tampil di luar negeri pun tak mau kalah unjuk kebolehan yang mampu menyesakkan ruangan dengan banyaknya penonton.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan banyaknya sajian musik di sebelas panggung berbeda, pada awalnya penonton cukup kebingungan. Mereka menyerbu meja informasi menanyakan dimana dan kapan musisi idolanya akan tampil. Setiap ruangan bahkan selalu dipadati penonton. namun keruwetan tersebut akan segera terlupakan ketika mereka berhasil menyaksikan langsung sajian di Java Jazz Festival.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada hari pertama Java Jazz Festival, jumlah penonton berhasil melebihi target yang hendak dicapai sebanyak 30 ribu. Menurut koordinator media, Dadang, tercatat pada Jumat (4/3/2005) malam sekitar 40 ribu orang memadati JCC. Ada kemungkinan di hari berikutnya jumlah penonton akan bertambah mengingat akhir pekan. Jadi, jangan sampai ketinggalan Java Jazz hari berikutnya. (ana)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.detikhot.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;www.detikhot.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111044957463986958?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111044957463986958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111044957463986958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/03/java-jazz-nan-meriah.html' title='Java Jazz Nan Meriah'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111044914881992155</id><published>2005-03-04T17:04:00.000+07:00</published><updated>2005-03-11T13:06:32.456+07:00</updated><title type='text'>KOLABORASI PERKUSI DAN TARIAN ETNIK ACEH BUKA JJF 2005</title><content type='html'>Berita selengkapnya silahkan klik &lt;a href="http://www.antara.co.id/seenws/?id=4376"&gt;http://www.antara.co.id/seenws/?id=4376&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111044914881992155?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111044914881992155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111044914881992155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/03/kolaborasi-perkusi-dan-tarian-etnik.html' title='KOLABORASI PERKUSI DAN TARIAN ETNIK ACEH BUKA JJF 2005'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111018713867473012</id><published>2005-03-04T16:14:00.000+07:00</published><updated>2005-03-07T16:36:39.286+07:00</updated><title type='text'>Adjie Rao Buka Java Jazz, Elfa’s Bossas Diminati Penonton</title><content type='html'>Laporan : Ati Kamil&lt;br /&gt;Jakarta, KCM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat (4/3), pukul 16.00 WIB, Jakarta International Java Jazz Festival 2005 (JIJJF) telah dimulai di Jakarta Convention Center (JCC).&lt;br /&gt;Sebanyak 42 pertunjukan di sebelas panggung In-door akan digelar hingga Sabtu (5/3) pukul 01.45 WIB.&lt;br /&gt;Salah satu dari penampil pembuka pada hari pertama JIJJF ini, adalah kerja sama suguhan musik perkusi yang menampilkan Adjie Rao, Steve Reid, dan tujuh pemain perkusi yunior dari Jendela Ide Bandung dengan para penari Deddy Luthan Dance Company. Mereka berhasil menarik perhatian banyak penonton di lobi Plenary Hall JCC.&lt;br /&gt;Dalam pertunjukan sekitar satu jam itu, mereka menampilkan lima nomor. Sementara para pemusik beraksi, sepuluh penari menyajikan koreografi yang dibikin sesuai dengan irama musik itu.&lt;br /&gt;Penampilan tersebut mampu menarik para penonton, terutama, karena menghadirkan tujuh pemain perkusi yang masih berusia 9-12 tahun.&lt;br /&gt;Adjie Rao dan kawan-kawan berlatih selama sebulan (seminggu dua kali) untuk tampil di JIJJF. Penggabungan antara musik dan tarian baru dilakukan dua minggu belakangan atas gagasan pihak penyelenggara JIJJF.&lt;br /&gt;Pertunjukan lain yang juga mampu menarik perhatian banyak penonton, adalah suguhan musik bosanova dari Elfa Secioria dan kawan-kawan yang menamakan diri mereka Elfa’s Bossas. Mereka tampil pada pukul 17.00 hingga pukul 17.40 WIB di Assembly Hall 1. Sekitar 200 penonton memenuhi ruangan itu.&lt;br /&gt;Elfa’s Bossas terdiri dari, Elfa Secioria (piano akustik), 14 pemusik pendukung, dan empat vokalis yang terdiri dari Lita Zen, Uci Nurul, Vera, dan Yuyun. Mereka membawakan lagu-lagu berirama bossas dari luar negeri yang sudah terkenal seperti Girl from Ipanema, Tangerine, Solitude, Adios America, dan Shadow of your smile.&lt;br /&gt;Para penonton yang dibuai irama bossas itu pun ikut bertepuk tangan dan menyanyi mengikuti sajian mereka.&lt;br /&gt;Setelah Elfa’s, penampil yang akan muncul adalah, George Duke yang menampilkan Glen Fredly sebagai bintang tamu, Ruth Sahanaya yang tampil bersama Jeff Kashiwa All Stars, Sujiwo Tejo yang menampilkan Bintang Indrianto, Simak Dialog, Nera dengan Gilang Ramadhan-nya, Tania Maria, Krakatau yang dipimpin oleh Dwiki Dharmawan, dan James Brown.&lt;br /&gt;Kendati pertunjukan sudah berlangsung, loket tiket di JCC tetap dibuka untuk memberikan kesempatan kepada calon penonton menyaksikan JIJJF baik untuk pertunjukan malam ini maupun pertunjukan Sabtu dan Minggu. (jy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;www.kompas.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; (04/03/2005)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111018713867473012?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111018713867473012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111018713867473012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/03/adjie-rao-buka-java-jazz-elfas-bossas.html' title='Adjie Rao Buka Java Jazz, Elfa’s Bossas Diminati Penonton'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111045028630357828</id><published>2005-02-05T17:22:00.000+07:00</published><updated>2005-03-11T12:53:33.716+07:00</updated><title type='text'>Jazzaid untuk Tsunami</title><content type='html'>&lt;img src="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0205/06/cintajazzaid.gif" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJUMLAH anak yang tergabung dalam Perkusi Anak Jendela Ide dengan gesit memainkan alat musik jembe saat tampil membuka konser musik Jazzaid "Konser untuk korban tsunami" di auditorium Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Jalan Purnawarman Bandung, Jumat (4/2). Konser musik jazz yang menampilkan sejumlah musikus dan kelompok jazz Bandung tersebut sekaligus mengumpulkan dana bagi para korban tsunami di Aceh dan Sumut.*ANDRI GURNITA/"PR"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111045028630357828?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045028630357828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045028630357828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/02/jazzaid-untuk-tsunami.html' title='Jazzaid untuk Tsunami'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111019135287437621</id><published>2005-02-04T17:24:00.000+07:00</published><updated>2005-03-07T17:29:12.876+07:00</updated><title type='text'>Bumi Itu seperti Kerupuk di Atas Bubur</title><content type='html'>Jumat, 04 Februari 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM suatu acara sosialisasi pendidikan bencana alam untuk guru-guru Sejarah dan Geografi di SMUN 6 Cijerah, Cimahi, Jawa Barat, pada pertengahan Januari lalu, guru-guru tampak sangat tertarik.&lt;br /&gt;MEREKA antusias melihat tayangan-tayangan yang diberikan T Bachtiar, ahli geografi dari Masyarakat Geografi Indonesia, dan Budi Brahmantyo, ahli geologi dari Kelompok Riset Cekungan Bandung.&lt;br /&gt;Elok Komariah (40), guru Geografi SMUN 9 Bandung, sudah tidak sabar bertemu murid-muridnya. Ia ingin secepatnya membagikan pengetahuannya tentang gempa dan tsunami serta potensi bencana alam di Jawa Barat kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt;Meskipun setiap hari media massa memberitakan gempa dan tsunami serta keadaan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), ternyata informasinya belum cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana orangtua, guru, dan murid.&lt;br /&gt;Pemberitaan media massa justru menambah beban buat orangtua. "Saya sengaja mematikan televisi, sebab saya takut anak saya jadi trauma melihat pemberitaan tentang NAD di televisi. Soalnya, waktu saya kecil, kematian adalah sesuatu yang sangat menakutkan," kata Ny Sarah Bastaman (35).&lt;br /&gt;Namun, Sarah tidak anti memberi pengetahuan tentang pendidikan bencana alam kepada anaknya. Maka, ketika Jendela Ide, sebuah lembaga pendidikan nonformal untuk anak-anak dan remaja di Bandung, mengadakan pendidikan untuk mengenal alam secara lebih dekat, Sarah pun segera membawa anaknya, Sabine (8), ikut serta. Hal yang sama dilakukan oleh Ny Shiavellia (35) atau akrab dipanggil Lia, yang membawa tiga anaknya.&lt;br /&gt;"MEREKA masih terus bertanya," kata Lia yang berharap dengan menyajikan informasi dalam bentuk animasi, anak-anak bisa dengan mudah memahami. Jendela Ide lalu memfasilitasi pendidikan mengenal bumi untuk anak-anak yang disajikan oleh Dr Ir Munasri, Kepala Unit Pelaksanaan Teknik Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.&lt;br /&gt;"Bumi itu seperti kerupuk di atas bubur. Ia terus bergerak," kata Munasri kepada anak-anak, ketika dia memulai cerita tentang keadaan bumi. Ia menunjukkan animasi bagaimana benua yang jutaan tahun lalu bersatu dan kemudian saling berpisah.&lt;br /&gt;Munasri juga menerangkan bahwa ahli kebumian telah meneliti hal itu dengan cara menemukan kesamaan fosil, iklim, batuan, dan bentuk pantai yang sama di benua-benua yang terpisah.&lt;br /&gt;Saat anak-anak tampak lelah, ia membangkitkan semangat mereka dengan bermain sulap. Ia juga terus memancing anak-anak untuk bertanya dan menjawab pertanyaannya.&lt;br /&gt;Munasri menerangkan soal gempa dan tsunami dengan bahasa yang sederhana. Ia menggambarkan dengan mempertemukan kedua kepalan tangannya dan memperlihatkan gerakan saling mendorong untuk menjelaskan bagaimana patahan di bumi saling mendesak dan akhirnya terpelanting yang menyebabkan gempa, dan jika terjadi di laut hal tersebut juga menyebabkan tsunami.&lt;br /&gt;Untuk menghindari gempa, anak-anak diajarkan untuk bersembunyi di bawah meja sambil memegang satu kaki meja. Untuk tsunami, anak-anak disarankan berlari ke tempat yang lebih tinggi saat air laut menyurut.&lt;br /&gt;Di akhir acara, Munasri yang telah memberikan pendidikan mengenal bumi untuk anak-anak di Karangsambung, Jawa Tengah, sejak tahun 2002 ini membawa anak-anak membuat hujan dari gayung yang dilubangi dan diisi air. Lalu, "hujan" tersebut diteteskan di atas tanah miring yang ditumbuhi rumput dan yang tidak ditumbuhi rumput.&lt;br /&gt;"Perhatikan Nak, apa perbedaannya," saran seorang ibu sambil memeluk anaknya yang tengah memerhatikan percobaan sederhana tersebut. Anak itu dengan sigap menjawab bahwa tanah yang tidak ditumbuhi tanaman cepat rontok terbawa air. "Itu tanda tanah tersebut mudah longsor," ujar sang ibu.&lt;br /&gt;Niken Anggrahini, Koordinator Program Mengenal Bumi Lebih Dekat dari Jendela Ide, menyatakan, program yang disiapkan selama dua minggu ini bisa menjawab pertanyaan anak-anak selama ini tentang bumi dan kejadian di sekitarnya.&lt;br /&gt;Niken juga berharap siswa sekolah yang sudah diundang bisa menyebarluaskan pengetahuan yang didapat dari program yang dilakukan sekitar dua jam itu kepada teman-teman sekolahnya melalui majalah dinding.&lt;br /&gt;Program yang sama diberikan juga oleh SMP Santa Angela, Bandung.&lt;br /&gt;Pendidikan mengenal bumi diberikan kepada siswa yang tidak bisa mengikuti program studi wisata. "Bagaimanapun kami tidak bisa lepas tangan begitu saja. Meski mereka tidak ikut wisata, mereka harus mendapat tambahan pengetahuan karena itu hak mereka," kata Bonita, Pembantu Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Santa Angela.&lt;br /&gt;Karena hal yang tengah aktual adalah persoalan gempa dan tsunami, SMP tersebut mengundang ahli geologi untuk berbicara di depan kelas. Munasri kembali ditunjuk berbicara di sekolah itu.&lt;br /&gt;Bonita mengatakan, sekolahnya amat tertarik untuk memberikan pendidikan bencana alam kepada murid-muridnya, sayangnya kurikulum sudah sangat padat.&lt;br /&gt;T Bachtiar mengatakan, pendidikan bencana alam bisa dimasukkan dengan menambah satu kompetensi dalam kurikulum yang telah ada dalam mata pelajaran Geografi. Kompetensi yang diperlukan adalah praktikum yang membahas potensi bencana alam di wilayah lokal di mana murid berada.&lt;br /&gt;Menanggapi antusiasme beberapa lembaga terhadap pendidikan bencana alam, Dadang Dally, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, mengatakan, dirinya pun menganggap penting pendidikan tersebut dan tengah memikirkan untuk memasukkannya dalam kurikulum.&lt;br /&gt;Kata Dadang, pihaknya segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan di kota dan kabupaten di Jawa Barat. "Banyak aspek yang harus dibicarakan untuk membuat kurikulum," kata Dadang yang tertarik dengan cara Jepang menyosialisasikan pendidikan keselamatan dari bencana melalui pelajaran Olahraga.&lt;br /&gt;Dr Ir Surono, Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan, meskipun belum ada kurikulum, pendidikan bencana alam masih dapat dilakukan.&lt;br /&gt;Ia bercerita tentang pengalamannya memberikan pendidikan bencana alam kepada murid-murid sekolah di Garut. Garut berpotensi gempa, longsor, dan letusan gunung berapi.&lt;br /&gt;Surono menyosialisasikan tentang bencana alam sepulang sekolah sampai murid-murid terpaksa terlambat pulang.&lt;br /&gt;"Harapan saya, orangtua bertanya pada anaknya mengapa mereka terlambat, dan anak- anak menuturkan alasannya sambil menceritakan kembali pengetahuan yang didapat dari kami pada orangtuanya," kata Surono. (Y09)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;www.kompas.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; (04/02/2005)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111019135287437621?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111019135287437621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111019135287437621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2005/02/bumi-itu-seperti-kerupuk-di-atas-bubur.html' title='Bumi Itu seperti Kerupuk di Atas Bubur'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-4109965073122815977</id><published>2004-12-11T15:56:00.000+07:00</published><updated>2007-03-01T16:18:15.443+07:00</updated><title type='text'>Orang Rindu Bermain Sambil Belajar</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Dahi Ayla mengerut, kepalanya miring ke kanan, seperti meminta kupingnya mencermati nada yang keluar dari djembe yang ia pukul secara ritmis. Tangannya lincah menabuh alat musik pukul Afrika yang diletakkan di depan tubuhnya yang duduk di sebuah kursi setinggi 30 sentimeter.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sesekali ia juga memandu teman-temannya untuk memainkan perkusi. Di sampingnya ada Bintang, Adya, Angga, dan Janus. Kelimanya adalah pemain musik cilik dari Jendela Ide. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Menurut seorang fasilitatornya, Andar Manik (45), Jendela Ide adalah sebuah lembaga budaya anak dan remaja yang memfasilitasi anak dan remaja beraktivitas di bidang seni rupa, teater, bahasa-sastra, serta olah bunyi dan gerak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Semua aktivitas diwujudkan lewat program berkreasi, pameran, pertunjukan, pemutaran film, diskusi, pelatihan, penulisan, serta pendokumentasian. Lembaga ini didirikan pada tahun 1995 oleh seniman, pendidik, dan ahli media komunikasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Salah satu kegiatan yang digemari adalah bermusik dengan perkusi. Anak-anak yang berada di Jendela Ide memiliki berbagai kegiatan, salah satunya bertujuan mengasah kemampuan motorik halus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Mereka terpisah dalam kelas-kelas secara berkelompok atau privat. Pada hari Sabtu, anak-anak dipertemukan dalam sebuah permainan kelompok yang sederhana, yaitu membunyikan alat musik pukul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Alat yang dipakai mulanya adalah toktok. Alat musik dari kayu ini biasa dipakai penjaja bakso untuk memanggil para pembelinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Toktok terdiri dari dua kayu. Satu sebesar gagang telepon dan satu lagi sebesar botol minyak kayu putih ukuran 60 mililiter. Keduanya dipukul sampai menghasilkan bunyi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Beberapa kali kegiatan itu dilakukan, "Baru deh, kelihatan ada beberapa anak berbakat memainkan perkusi. Kami kemudian memberi mereka guru khusus," ujar seorang fasilitator, Marintan Sirait (44).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Awalnya, alat musik yang dipakai adalah rebana. Setahun lalu kelas ini diajar oleh Adjie Rao, musisi perkusi yang tergabung dalam Jakarta All Star dan Wachdach Band. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Di kelas itu, anak peminat perkusi diajarkan memainkan musik dengan perkusi dan disemangati membuat komposisi musik baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Saat Kompas berkunjung ke tempat kegiatan Jendela Ide, anak-anak tersebut tengah memainkan musik yang diberi tajuk Barongsai yang belum selesai seluruh komposisinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Akan tetapi, mereka juga sudah membuat sebuah komposisi musik dengan sempurna. Komposisi yang belum berjudul itu sering mereka sebut Safri Duo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Adya, salah seorang anak yang mempelajari perkusi, mengaku jatuh hati pada alat musik ini setelah beberapa kali ikut berlatih. "Tadinya diminta Mama dan saya enggak mau," kata Adya yang mengaku senang memainkan perkusi dan bermain bersama teman-temannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kesenangan bermain adakalanya lebih menyenangkan dari permainan perkusi itu sendiri. Ayla, misalnya, tak tahan jika seminggu tak berlatih perkusi, bukan lantaran khawatir kemampuan bermusiknya menurun, tetapi karena kangen pada teman-temannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kebutuhan bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain rupanya tak hanya menjangkiti para pemain perkusi yang terbilang senior di Jendela Ide. Anak-anak yang usianya lebih muda pun tergoda untuk berkumpul bersama dan membuat kelompok baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Mereka adalah Abbe (6), Martin (6), Gilang (7), Danika (6), dan Nisya (6). Meski tampak lesu memukul djembe di depannya, mereka mempunyai cita-cita menggebu, ingin tampil di atas panggung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Danika, Nisya, dan Gilang, sambil malu-malu ingin bisa tampil seperti kakak-kakaknya, Angga, Janus, dan Bintang. "Di rumah saya suka diajarin Janus main djembe," kata Nisya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Martin yang baru bergabung sebulan bercerita di rumahnya ia sering memukul galon air mineral untuk ditabuhi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Eit… ternyata tak cuma anak-anak yunior yang tergiur untuk bermain-main dengan musik pukul itu, orangtua pun tak dapat menahan godaan musik perkusi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;"Melihat anak-anak jadi pandai bermain djembe, kami juga jadi tertarik mempelajarinya," kata Munasri (46) yang selalu mengantar dan menunggui anaknya belajar dan bermain di Jendela Ide.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Maka, ketika anak-anak meninggalkan djembe-djembe mereka di kelas untuk sejenak bermain di halaman, giliran ayah-ayah mereka yang menyerbu kelas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kegemasan mereka pada djembe pun ditumpahkan. Mereka berusaha keras mengeluarkan bunyi dan membangun harmoni dengan mempraktikkan ilmu yang mereka curi dari anak-anak mereka di luar kelas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Karena ulahnya, bapak-bapak itu kemudian "dikerjai" guru musik anak-anak. Mereka mulai diberi pekerjaan rumah berupa komposisi musik yang harus dimainkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Komposisi tersebut ditulis dalam partitur musik perkusi. Tentu saja, sebelumnya murid di kelas "amat senior" ini diberi penjelasan bagaimana membaca dan memainkan komposisi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Hasilnya, para ayah yang rajin mengantar anak-anaknya itu membuat kelompok musik perkusi sendiri yang diberi nama De’Babs. "Yang artinya kurang lebih para bapak," kata Ati (37), koordinator pertunjukan sekaligus istri dari Adjie Rao.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Tak cuma berhasil membuat grup musik, Sofyan misalnya, kini tak hanya memainkan djembe di saat anaknya meninggalkan kelas untuk beristirahat. Tetapi, berkolaborasi bersama anaknya, Abbe yang duduk di kelas yunior untuk memainkan djembe di rumah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sementara itu Munasri, ayah Janus dan Nisya, tak mau terpisah dengan djembe-nya. "Ke mana pun saya selalu bawa djembe," ujar Munasri yang didampingi istrinya, Tomomi, perempuan asal Jepang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Kalau para ayah mempunyai ilmu baru dalam musik perkusi, para ibu sering bertukar informasi merawat anak sampai resep masakan baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Lulu (42), mantan atlet voli nasional, mengaku anaknya Angga yang kurang baik motorik halus tangan kirinya mulai aktif menggunakan kedua tangannya dengan memainkan perkusi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Angga yang dulu mudah meledak-ledak kini sudah lebih kalem. Begitu pun Danika, yang awalnya tertutup dan takut berhadapan dengan orang asing, sekarang tidak lagi. (Y09)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sumber: &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/11/Jabar/1431683.htm"&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/11/Jabar/1431683.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-4109965073122815977?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/4109965073122815977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/4109965073122815977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2007/11/orang-rindu-bermain-sambil-belajar.html' title='Orang Rindu Bermain Sambil Belajar'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-113220507305463121</id><published>2004-10-11T12:21:00.000+07:00</published><updated>2005-11-17T12:24:33.166+07:00</updated><title type='text'>Perdagangan Satwa Liar Marak</title><content type='html'>BANDUNG, (PR).-&lt;br /&gt;Perdagangan liar satwa yang dilindungi di Kota Bandung bukan saja semakin marak, tetapi juga jaringan perdagangannya sudah berupa sindikat atau mafia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini para pedagang liar jarang yang berani secara terang-terangan memperjualbelikan satwa yang dilindungi. Tetapi mereka berkedok menjual satwa yang tidak dilindungi seperti kucing, anjing, ular, dll.," kata Direktur Konservasi Alam Nusantara (Konus), Hasudungan Pakpahan, M.T., di sela-sela acara "Primate Day III" di Taman Cilaki Bandung, Minggu (10/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membeli satwa liar yang dilindungi, lanjutnya, konsumen harus terlebih dahulu bernegosiasi dengan pedagang, bahkan terkadang mereka harus mengadakan pertemuan rahasia. Setelah harganya disepakati, biasanya akan ditentukan lokasi dan waktu transaksi. "Jaringan perdagangan berupa sindikat tentunya akan semakin menyulitkan untuk memberantasnya. Untuk itu, diperlukan kerja sama semua pihak mulai pemerintah pusat, pemerintah daerah, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), kepolisian, LSM, dll.," kata Pakpahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diungkapkan pula, masyarakat yang membeli satwa liar yang dilindungi sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke atas. Di lihat dari status sosialnya, mereka seharusnya sadar bahwa membeli satwa dilindungi akan diancam hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp 100 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye penyelamatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konus, sebagai sebuah lembaga yang aktif melakukan kegiatan pelestarian satwa dan habitatnya, berusaha melakukan upaya-upaya pelestarian satwa khususnya di Jabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah satunya adalah kampanye penyelamatan satwa. Kampanye yang dikemas dalam bentuk "Primate Day" bertujuan mengajak masyarakat untuk berperan serta sebagai pelaku dalam penyelamatan satwa liar," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan "Primate Day III" yang digelar di Taman Cilaki Bandung berupa pameran pelestarian satwa liar dilindungi, pegelaran musik lingkungan, kampanye simpatik, happening art, pesan dukungan untuk satwa liar, dan face painting (melukis wajah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran pelestarian satwa liar diikuti 8 instansi, masing-masing Borneo Orangutan Survive (BOS) Balikpapan, Conservation International (CI) Indonesia-Jakarta, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Bandung, Konservasi Alam Nusantara (Konus), Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) Sukabumi, Seksi Wilayah Konservasi I BKSDA, Walhi Jabar, dan Wildlife Concervation Society (WCS) Bogor-Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pagelaran musik menampilkan kelompok musik Reregean, Jendela Ide Kids Percussion, Blue Hikers, The Republic of Panas Dalam, Tataloe Percussion, DIGO and Band, dan Pemuda Harapan Bangsa (PHB). (A-115)***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-113220507305463121?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/113220507305463121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/113220507305463121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2004/10/perdagangan-satwa-liar-marak_11.html' title='Perdagangan Satwa Liar Marak'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111045576516344961</id><published>2004-10-10T18:53:00.000+07:00</published><updated>2005-03-11T12:42:47.606+07:00</updated><title type='text'>Perdagangan Satwa Liar Marak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;BANDUNG, (PR).-&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perdagangan liar satwa yang dilindungi di Kota Bandung bukan saja semakin marak, tetapi juga jaringan perdagangannya sudah berupa sindikat atau mafia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Saat ini para pedagang liar jarang yang berani secara terang-terangan memperjualbelikan satwa yang dilindungi. Tetapi mereka berkedok menjual satwa yang tidak dilindungi seperti kucing, anjing, ular, dll.," kata Direktur Konservasi Alam Nusantara (Konus), Hasudungan Pakpahan, M.T., di sela-sela acara "Primate Day III" di Taman Cilaki Bandung, Minggu (10/10).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk membeli satwa liar yang dilindungi, lanjutnya, konsumen harus terlebih dahulu bernegosiasi dengan pedagang, bahkan terkadang mereka harus mengadakan pertemuan rahasia. Setelah harganya disepakati, biasanya akan ditentukan lokasi dan waktu transaksi. "Jaringan perdagangan berupa sindikat tentunya akan semakin menyulitkan untuk memberantasnya. Untuk itu, diperlukan kerja sama semua pihak mulai pemerintah pusat, pemerintah daerah, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), kepolisian, LSM, dll.," kata Pakpahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diungkapkan pula, masyarakat yang membeli satwa liar yang dilindungi sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke atas. Di lihat dari status sosialnya, mereka seharusnya sadar bahwa membeli satwa dilindungi akan diancam hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp 100 juta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kampanye penyelamatan&lt;br /&gt;Konus, sebagai sebuah lembaga yang aktif melakukan kegiatan pelestarian satwa dan habitatnya, berusaha melakukan upaya-upaya pelestarian satwa khususnya di Jabar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Salah satunya adalah kampanye penyelamatan satwa. Kampanye yang dikemas dalam bentuk "Primate Day" bertujuan mengajak masyarakat untuk berperan serta sebagai pelaku dalam penyelamatan satwa liar," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kegiatan "Primate Day III" yang digelar di Taman Cilaki Bandung berupa pameran pelestarian satwa liar dilindungi, pegelaran musik lingkungan, kampanye simpatik, happening art, pesan dukungan untuk satwa liar, dan face painting (melukis wajah).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pameran pelestarian satwa liar diikuti 8 instansi, masing-masing Borneo Orangutan Survive (BOS) Balikpapan, Conservation International (CI) Indonesia-Jakarta, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Bandung, Konservasi Alam Nusantara (Konus), Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) Sukabumi, Seksi Wilayah Konservasi I BKSDA, Walhi Jabar, dan Wildlife Concervation Society (WCS) Bogor-Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sementara pagelaran musik menampilkan kelompok musik Reregean, Jendela Ide Kids Percussion, Blue Hikers, The Republic of Panas Dalam, Tataloe Percussion, DIGO and Band, dan Pemuda Harapan Bangsa (PHB). (A-115)***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://www.pikiran-rakyat.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111045576516344961?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045576516344961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045576516344961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2004/10/perdagangan-satwa-liar-marak.html' title='Perdagangan Satwa Liar Marak'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111045038547590781</id><published>2004-07-10T17:25:00.000+07:00</published><updated>2005-03-11T12:52:10.013+07:00</updated><title type='text'>Festival Tanabata di Tobucil</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;FESTIVAL Tanabata yang merupakan tradisi Jepang untuk menggantungkan harapan di pohon harapan yang terbuat dari bambu diselenggarakan sejak 3 - 10 Juli di "Common Room" Tobucil (Jln. Kyai Gede Utama No. 8) dan di "Jendela Ide" (Jln. Kyai Gede Utama No. 12). Festival ini disertai dengan pembacaan dongeng dari Emakinono (scroll) yang berisi cerita tentang Putri Orihime dan Raja Kengyu yang bertemu setiap setahun sekali, pada 7 Juli di galaksi Bima Sakti. Kali ini, Mizuho Matsunaga membuat perayaan itu berupa workshop origami, menggantungkan harapan di Pohon Harapan, pembacaan cerita dari Emakimono, dan pameran. (PR)*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://www.pikiran-rakyat.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111045038547590781?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045038547590781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045038547590781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2004/07/festival-tanabata-di-tobucil.html' title='Festival Tanabata di Tobucil'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111045449224971155</id><published>2003-07-19T18:32:00.000+07:00</published><updated>2005-03-10T18:34:52.256+07:00</updated><title type='text'>In-Docs Junior Camp 2003: “Bandung Street Life”</title><content type='html'>“Wakuncar…waktu kunjung pacar…wakuncar…waktu kunjung…pa…car…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebait lirik lagu keluar dari bibir Rara, seorang anak jalanan berusia 9 tahun, di sebuah lokasi tempat makan di wilayah Cikapundung. Rara bersama Maran, Iphey dan Docro adalah sebagian dari komunitas anak jalanan yang ‘tinggal’ di basecamp Cikapundung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Rara dan kelompok anak jalanan Cikapundung, ada Budi Dalton, pecinta sepeda motor tua dengan Bikers Brotherhood-nya. Ada juga Cokelat, eks pemakai narkoba dan anak punk yang sekarang menjadi pedagang kaki lima di depan BIP, ada Dini yang mengamen tiap hari bersama ibu dan kakaknya di depan Planet Dago, dan ada juga Herri si pembuat tato dan pelukis foto di Jalan Merdeka. Mereka adalah bagian dari komunitas jalanan yang menjadi subyek film dokumenter peserta In-Docs Junior Camp 2003 yang bertema Street Life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlangsung dari tanggal 28 Juni-15 Juli 2003 di Bandung, In-Docs Junior Camp 2003 yang merupakan kerja sama In-Docs dengan Klab Baca, Bandung Center for New Media Arts, dan Jendela Ide diikuti oleh 15 pelajar SMU Bandung yang lolos seleksi berdasarkan short essay yang mereka buat mengenai kehidupan jalanan. Mereka adalah Cucu (SMUN 26), Yulia (SMUN 26), Endry (SMUN 3), Ferari (SMUN 5), Nugraha (SMU Angkasa), Suca (SMUN 3), Nurrita (SMUN 2), Andika (SMUN 3), Puput (SMUN 3), Lukman (SMU Taruna Bakti), Nisa (SMU Angkasa), Riza (SMU Muthahari), Fatmi (SMU Angkasa), Eva (SMUN 26) dan Shubhi (SMU Al Ma’soem). Para peserta yang dibagi menjadi 5 kelompok, selama camp tinggal bersama di Youth Hostel, Jl. W.R. Supratman, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 18 hari para peserta dilatih dasar-dasar pembuatan film dokumenter sambil mengeksplorasi berbagai permasalahan masyarakat perkotaan yang tinggal di Bandung yang terus berubah lewat sebuah riset kualitatif. Mereka dibimbing oleh para tutor yang merupakan ahli film dokumenter dan riset sosial, yaitu Abduh Azis, Tonny Trimarsanto, Haswinar Arifin, Chandra Tanzil, Faozan Rizal dan Dony Kusen. In-Docs juga mengundang beberapa narasumber periset untuk memberikan insight kepada peserta mengenai komunitas-komunitas yang ada di jalanan, yaitu Resmi Setia, Popon Anarita, Pam, Arian, Keri Laksmi Sugiarti, Yulifa Sharlila R. dan Gustaff H. Iskandar. Selama proses pembuatan film dokumenter, mulai dari riset, shooting sampai dengan editing, tiap kelompok didampingi oleh mentor yang mempunyai latar belakang produksi film dokumenter dan riset sosial. Mereka adalah Tonny Trimarsanto, Eko Harsoselanto, Dien Fakhri Iqbal, Rhino Ariefiansyah, I Gusti Ketut Trisna Pramana, Tarlen Handayani dan Freddy Aryanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah empat hari pemberian materi di dalam kelas yang bertempat di Jendela Ide dan Common Room Bandung Center for New Media Arts, peserta kemudian langsung turun ke jalan untuk melakukan riset. Mereka berinteraksi langsung dan beradaptasi dengan suasana jalanan dan juga kebiasaan komunitas jalanan tersebut. Dari hasil riset, tiap-tiap kelompok kemudian menentukan subyek film mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah camp selesai, kelima kelompok peserta menghasilkan lima film dokumenter pendek berdurasi kurang lebih 15 menit yang merupakan kesatuan dari seri Bandung Street Life. Film mereka inilah yang pada tanggal 20 Juli 2003 diputar perdana di Asia Africa Cultural Center (Majestic). Setelah pemutaran lokal, seri Bandung Street Life ini akan diputar untuk umum pada bulan Oktober 2003 di Jakarta International Film Festival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In-Docs berharap film dokumenter yang dihasilkan peserta In-Docs Junior Camp 2003 dapat membantu masyarakat mengomunikasikan permasalahan mereka ke publik yang lebih luas, dan juga ke anggota masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 Juli 2003 - 13:12 (Diposting oleh: ab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : http://relawan.net&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111045449224971155?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045449224971155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045449224971155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2003/07/in-docs-junior-camp-2003-bandung.html' title='In-Docs Junior Camp 2003: “Bandung Street Life”'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111045370259524948</id><published>2003-06-18T18:05:00.000+07:00</published><updated>2005-03-10T18:23:51.893+07:00</updated><title type='text'>Report from World Environment Day 2003</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;June 18 2003&lt;br /&gt;Dear friends and colleagues,&lt;br /&gt;Here are a short report and pictures from the World Environment Day commemoration in Jakarta, 5-8 June 2003. SGP-Indonesia, together with 50 Civil Society Organizations, Companies, Indigenous Peoples, Women Organizations, environment urban poor, marginalized and disenfranchised children. At least 450 women, children, Indigenous Peoples and SGP Indonesia's partners camped, held workshops, organized public awareness activities and press conferences for three days. Translating the international theme of this year's WED, we agreed to choose "Water for Everyone, One Earth for All" as our common theme among supporters of Community Forum for Earth. This Community Forum was designed as a forum for shared learning, cross communities communication and meeting place for all parties from all walks of life to discuss about environment concerns and to build network to address environmental problems at community level and beyond. This year Community Forum for Earth has received kind supports from the Ford Foundation, Multi-Stakeholders Forestry Programme-DFID, the Rainforest Information Centre-Australia, GEF-SGP Indonesia, Bina Desa, Kehati, Kemala, Konphalindo (with support from Fair Trade-Oxfam GB and VSO-Spark), Komseni and Martha Tilaar Group. The list continues. We have a long list of individuals and organizations who worked very hard and tireless to organize and materialize this event. Our deepest gratitude to all dedicated people, environmentally disadvantaged children, organizations, companies, government and donor communities who shared beliefs and good energy with us. Special thanks also go to our National Steering Committee members who have seen the importance of reaching out to as many hands as we can. Documentations in VCDs, DVD, pictures and media coverage are available upon request. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img src="http://www.rainforestinfo.org.au/images/avi0.jpg"&gt;&lt;br /&gt;Planting two indigenous species trees (menteng and kecapi) by senior grassroots environmental activist and ambassador for smallest primate (golden tarsius for North Sulawesi) witnessed by children, owner of our future earth. (Although not stated publicly, these two fruit trees of Betawi are dedicated for Jane and Sally-the two SGP's mothers. The trees are expected to bear fruits for children and birds, while preserving local fruits that gradually are vanishing from the local fruit market). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img src="http://www.rainforestinfo.org.au/images/avi1.jpg"&gt;&lt;br /&gt;Among about 50 units of bamboo booth on the fair ground, SGP-Indonesia's National Host Institution's (Yayasan Bina Usaha Lingkungan) booth offers renewable energy solution to public. Everyday, during the Earth Harvest and Positive Energy exhibit, hundreds of school children and local communities including religious groups visited the exhibit. The Organic Village miniature, organized by Konphalindo and 20 other CBOs and CSOs, has drawn interests from various parties. BBC Radio had a life interviewed with them for an hour along with three other Jakarta-based radio, newspapers and TVs. Outputs: new network on organic life style (beyond products) from across communities and sectors; direct communication with customer buyers (e.g. the Madina's women traditional batik cloth coloring (using local indigenous plants) and weaving received orders from government office, public figures and communities; palm sugar of Kasepuhan Indigenous Peoples met buyers through initial order of 0.5 ton of palm sugar; the Dieng high plateau communities sold almost all of their local carica fruit pickled in jars; traditional herbal medicines claimed to sell of their products; alternative medicine booth offering acupressure, acupuncture and homeopathy were visited by about a hundred patients with serious illness and visitors wishing to maintain wellness while mending relationship with the earth. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img src="http://www.rainforestinfo.org.au/images/avi2.jpg"&gt;&lt;br /&gt;Boys and girls of 10-15 year from 9 communities representing street kids, urban poor, disabled, and other marginalized communities joined the Earth's Children camping and environmental workshop from 5-8 June. One of the disabled kids flew safely during the Flying Fox game as part of environmental leadership workshop. SGP-Indonesia, Rakata Outdoor, Sanggar Anak Akar (Roots Children Community), Jendela Ide (Window of Ideas) and other groups helped facilitate the gathering of 150 children from various communities. Workshops program include a simple water filtering technique, domestic waste management, creating book through clay media (interconnection of life basic elements), environmental decision making and network building. The children agreed to decide on what they want to consume and to cook their own meal. With the agreement of 150 children, the organizer provided market of all fresh and organic products. Consensus among campers stipulates that instant products should not be consumed during those days. Each tent was equipped with energy efficient clay cook stove (technical assistance from the cook stove network). Output: books on children's perspectives about water and environment; 100 children's diaries consisting of in-sight of the program; inclusive environment network of children.&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.rainforestinfo.org.au/images/avi3.jpg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img src="http://www.rainforestinfo.org.au/images/avi4.jpg"&gt;&lt;br /&gt;Environmental activism can be expressed through theater, performance art, films and music. Every afternoon from 5-7 June, the camping ground was filled with environmental music from various school and artisan groups. Spirit consisting of international communities in Jakarta donated 5 songs on environmental and social critics during the opening ceremony attended by at least 500 visitors, NSCs members and distinguished guests. Note that many embassies in Jakarta issue warning for their citizens to avoid crowd in response to series of bombing in April and May. However, solidarity and consciousness to say no to violence through earth friendly activities are still stronger than fear. The above theater show depicts interpretation of wasteful-throw away society. Piles of wasted mineral water plastics and PVC based plastic bags, very often clogging our river, sewage and burned in the dump sites, are becoming part of urban environment and culture. Something that our children can actually live without (?)&lt;br /&gt;Behind the scene, there was a large silver screen to run environmental movies and documentation produced by activists, communities and independent film makers. At least 6 SGP's supported project was screened. Konfiden, a community of young independent sineas, produced a short (10 minute) documentation on micro hydro project supported by SGP and was used as the opening film to show respect to water. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img src="http://www.rainforestinfo.org.au/images/avi5.jpg"&gt;&lt;br /&gt;Respecting life and earth is the central theme of this women group of Kasepuhan Indigenous Peoples. Braving 14 hours of bumpy journey from Halimun Mountain, these women sang the wisdom of rice planting and harvesting. The communities even brought special brown rice forbidden for trade to SGP Indonesia's camp. The brown rice became a true education media to question ourselves how ready we are to adopt organic lifestyle and to respect communities' hard work to produce healthy food for us and for the earth. Despite the nutrition facts and health advice, some activists and participants still thought that brown rice (organic and local) is not very good for human consumption. The above picture was taken during the opening of Women's Conference on Water Access and Food Sovereignty.&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.rainforestinfo.org.au/images/avi6.jpg"&gt;&lt;br /&gt;SGP Indonesia organized Earth Entrepreneurs Camping and workshops on marketing strategy, packaging, and outreach and business plan development for partners. More than 30 partners and two other participants from Kemala network attended the experience exchanges and skill sharing. Although the camping ground is located right in the heart of South Jakarta, it is very quiet to enable three workshops to run in parallel within the establishment. Three experts in marketing strategy, packaging and business development as well as government officials related to community-based production and trade attended the workshop. Martha Tilaar Group, whose founder serves as dedicated and inspiring NSCs member, sent her best experts to help SGP grantees analyze their marketing strategy and share the recipe of success for natural product marketing. The outcomes from this meeting include possible cooperation among partners, product development with Johny Utama and Martha Tilaar Group, information access to Department of Industry, Energy and Cooperatives. The event was also a good opportunity for grantees to practice media strategy, public awareness and awareness program, and accountability principles. This is also to show that environmental responsibility is everyone's responsibility and not anymore the domain of environmental NGOs only. Lessons learned from this meeting: better publication strategy, allowing longer period of planning and more self confidence for next year event. (This event was effectively organized in two and half months of preparation.) Media coverage of this Community Forum, not including preparation phase, include two life interview with Jakarta-based radio stations, three interviews with private TV stations, three articles on newspaper (with one headline in Jakarta-based periodical). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : www.rainforestinfo.org.au/projects/rsdg/avi.htm&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111045370259524948?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045370259524948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111045370259524948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2003/06/report-from-world-environment-day-2003.html' title='Report from World Environment Day 2003'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111018796285248789</id><published>2000-07-04T15:30:00.000+07:00</published><updated>2005-03-07T16:35:45.533+07:00</updated><title type='text'>Pertukaran Budaya Merapi-Bandung</title><content type='html'>Selasa, 4 Juli 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERBEDAAN etnik, bahasa, budaya dan lingkungannya yang membesarkan, ternyata bukan masalah yang bisa memisahkan dua kelompok anak yang berbeda. Bahkan, melalui "pertukaran budaya", sekat-sekat sentimen kedaerahan yang belakangan ini tampil dalam tataran politik nasional kita ternyata dalam dunia anak-anak bisa lepas dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memasalahkan asal-usulnya, kedua kelompok anak tersebut bisa berinteraksi secara intens dalam program pertukaran budaya "Merapi-Bandung", 30 Juni-2 Juli. Menyaksikan mereka, seolah-olah kita menyaksikan sebuah generasi Indonesia baru yang kesehatan raganya terjaga, kehalusan rasanya terbina, serta kesinambungan hubungan antarmanusia dan alam lingkungan senantiasa mendapat penghargaan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok yang satu, sekitar 27 anak, sengaja diboyong ke Bandung dari tempat asal mereka di Dusun Tutup Ngisor yang daerahnya terletak di kaki Gunung Merapi, Jateng. Anak-anak desa yang tempat tinggalnya sekitar 15 km dari Muntilan itu memiliki latar belakang budaya yang unik sekaligus menarik. Mereka merupakan komunitas solid anak-anak petani yang dibangun oleh figur Romo Yososoedarmo. Pastor Romo Yososoedarmo mendirikan Padepokan Cipto Budoyo pada tahun 1937 yang sekaligus memperkenalkan filosofi hidup swadaya dan tenteram, di antara khaos Gunung Merapi. Sedangkan kelompok lainnya adalah anak-anak kota yang selama ini tergabung dalam sanggar seni di Bandung. Mereka setidaknya sudah terpengaruh gaya hidup dan bentuk serta permainan yang individualistik dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, melalui nalurinya sebagai anak-anak, selama tiga hari berada di Bandung mereka telah berinteraksi tanpa merasa dibatasi oleh perbedaan bahasa, lingkungan dan budaya. Di "Rumah Nusantara", mereka berbaur dalam berbagai kegiatan dalam suasana yang sangat akrab. Anak-anak Dusun Ngisor belajar melukis dan melakukan kegiatan kesenian lainnya yang selama ini dilakukan anak-anak di kota. Sebaliknya, anak-anak dari berbagai sanggar di Bandung belajar tari dan kesenian yang selama ini dilakukan anak-anak Dusun Ngisor.&lt;br /&gt;Sebagai anak yang tumbuh dalam tradisi agraris, anak-anak Dusun Tutup Ngisor memiliki bentuk-bentuk kesenian yang unik dan umumnya bersifat kolaboratif. Dari yang ringan dengan permainan sebagai unsur utamanya seperti jamuran -yang terikat secara ketat seperti kobrasiswo atau jatilan- hingga yang berpola literer seperti wayang orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program pertukaran budaya "Merapi-Bandung" merupakan kerja sama Padepokan Cipto Budoyo Desa Tutup Ngisor Gunung Merapi dengan Studio Mendut, Jendela Ide Bandung, Studio Rumah Pertunjukan Bandung (SRPB) dan Rumah Nusantara. Puncak acaranya ditutup dengan pergelaran wayang wong cilik, menampilkan cerita Anggodo Balik pada Minggu (2/7) malam di Taman Budaya Jabar. (hers)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111018796285248789?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111018796285248789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111018796285248789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2000/07/pertukaran-budaya-merapi-bandung.html' title='Pertukaran Budaya Merapi-Bandung'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11286141.post-111018834352785022</id><published>2000-07-03T15:37:00.000+07:00</published><updated>2005-03-07T16:39:03.526+07:00</updated><title type='text'>Pertukaran Budaya Anak-anak Merapi-Bandung</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Senin, 3 Juli 2000&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bandung, Kompas &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Budaya anak-anak dari Dusun Tutup Ngisor, sebuah komunitas budaya di kaki Gunung Merapi, Jateng, yang selama ini dikenal unik dan menarik ditampilkan di depan anak-anak Bandung dalam rangka pertukaran budaya anak-anak dari dua daerah tersebut, Sabtu dan Minggu (2/7) kemarin.&lt;br /&gt;Pada hari pertama, anak-anak yang berasal dari dua lingkungan yang berbeda itu berinteraksi di "Rumah Nusantara" dalam sebuah workshop yang melibatkan 27 anak-anak Dusun Tutup Ngisor dan sekitar 80 anak dari berbagai sanggar seni di Bandung. Malam hari kedua, mereka mempertunjukkan kebolehannya dalam memainkan wayang orang bocah dengan lakon "Anggodo Balik" di Taman Budaya Jawa Barat.&lt;br /&gt;Anak-anak Dusun Ngisor memiliki keunikan, karena mereka berasal dan tumbuh dari masyarakat petani di lingkungan alam pegunungan yang masih kuat dan menjunjung tradisi. Pertemuan anak-anak tersebut diselenggarakan dalam rangka Hari Anak Sedunia, merupakan kerja sama antara Padepokan Cipto Budoyo Desa Tutup Ngisor Gunung Merapi, Studio Mendut, Jendela Ide Bandung, Studio Rumah Pertunjukkan Bandung dan Rumah Nusantara Bandung. (hers) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;www.kompas.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; (03/07/2000)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11286141-111018834352785022?l=kl1p1ng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111018834352785022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11286141/posts/default/111018834352785022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kl1p1ng.blogspot.com/2000/07/pertukaran-budaya-anak-anak-merapi.html' title='Pertukaran Budaya Anak-anak Merapi-Bandung'/><author><name>Jendela Ide</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14236186110103224174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://img395.imageshack.us/img395/8239/logo1jigi6.jpg'/></author></entry></feed>
